Lihat ke Halaman Asli

Karimatus Sahrozat

Writer, Editor

Cerpen: My Sea

Diperbarui: 26 April 2022   21:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi: Di tepi pantai. (sumber: pexels.)

22.23 WIB.

Kamu baru saja mematikan laptop, baru saja menyelesaikan pekerjaanmu hari ini. "My sea" milik IU terputar lamat-lamat dari pemutar musik. Kamu menatapku di depan kaca, mengelus kepalaku: terima kasih sudah bekerja keras hari ini. Kurang lebih begitu isi kepalamu.

Kamu melihat sekeliling. Tumpukan buku besar-kecil warna-warni tertata rapi di atas meja kerjamu. Ada Every Word You Cannot Say-nya Iain Thomas, Time of Your Life-nya Rando Kim, The Book of Imaginary Beliefs-nya Lala Bohang, Midnight Library-nya Matt Haig, Before the coffee gets cold-nya Kawaguchi, Pulang-nya Tere Liye, Rectoverso-nya Dee, Andersen's Fairy Tales-nya Andersen, Ziarah-nya Iwan Simatupang, A World Without Islam-nya Graham Fuller, sampai Mahabarata-nya Nyoman S. Pendit. 

Itu cuma sebagian kecil dari buku-buku milikmu. Dan kamu tahu? Buku-buku itu, disadari atau tidak, adalah satu dari sekian banyak alasan kenapa aku bertahan dan kembali belajar mencintaimu, lagi dan lagi. Sebab asal tahu saja, tidak mudah mencintai kamu.

Kita sudah bersama selama hampir 27 tahun. Aku melihatmu tumbuh, melihatmu patah, melihatmu bangkit, juga melihatmu tersenyum dan menangis dalam banyak kesempatan. 

Aku menyaksikan dan membersamai setiap langkahmu. Membersamai kamu belajar mencintai orang-orang terdekatmu, termasuk belajar memaafkan setiap kesalahan yang dalam logikamu seharusnya tak boleh termaafkan.

Bukannya aku sebegitunya mencintai kamu. Seringkali aku ingin menyerah. Tapi waktu pikiran-pikiran itu terlintas, kulihat lagi setumpuk buku-bukumu yang segunung itu. Kuingat lagi seberapa kerasnya kamu sudah berusaha memahamiku.

Lewat buku-buku yang tak pernah terlambat kamu baca itu, aku tahu sebenarnya kamu cuma sedang berusaha memahami orang-orang terdekatmu, memahami semesta, dan yang terpenting memahamiku. 

Aku tahu kamu tak pernah berhenti mencoba. Bahkan lewat tulisan-tulisanmu yang sering terkesan abstrak dan terkadang penuh romantisme yang kurasa klise, aku paham sekali kalau sebenarnya kamu sedang berusaha sekeras mungkin demi memahamiku.

...

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline