Lihat ke Halaman Asli

Ina Tanaya

TERVERIFIKASI

Ex Banker

Wiroto Craft, UMKM yang Berjuang Berat di Tengah Persaingan

Diperbarui: 17 November 2018   07:30

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dok.pribadi

Sebuah perjalanan yang saya lalui di Yogyakarta, kota yang penuh dengan kedinamisan dan jiwa seni dari segenap warganya.Waktu yang sangat singkat tetapi padat dengan rencana. Saya bertolak dari Jakarta untuk liburan sekaligus meliput salah satu dari UMKM binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA).

Selesai berlibur dua hari semalam di Jogya dan Magelang, kendaraan pun segera melaju dari Magelang kembali ke Jogya.  Menikmati perjalanan dengan pemandangan sawah hijau nan jau bagaikan permadani, cuaca cerah.  Jalan desa beraspal mulus tanpa lubang.  Lancarnya perjalanan tanpa kemacetan. 

Tanpa terasa mobil telah berada di Jalan Monumen Perjuangan 12, Wirokerten, Banguntapan, Bantul.  Saya bertemu dengan Wawang Supriyadi, pemilik Wiroto Craft dengan diantar oleh   Bapak Arif dari Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Yogyakarta .

Ketika tiba di lokasi, depan arah muka saya melihat bangunan joglo besar dan luas dengan ukiran kayu yang begitu otentik. Menyusuri ke belakang, ada sebuah pendopo, yang merupakan galeri kecil tapi sangat penuh dengan barang-barang pajangan seni dari aluminium yang sangat artistik. Mulai dari bingkai hewan kuda, kepiting, kangguru, jerapah, kuda, gajah, cicak, sampai ada juga miniatur becak, sepeda, peralatan rumah dan Wayang Klitik Sadewa dan Rama.

danagaibampuh.blogspot.com

Perbincangan yang sangat informal dan santai pun berlangsung. Kisah perjalanan UKM Wiroto yang panjang, lengkap dengan tragedi jatuh bangun usaha, telah ditempuh Wawang Supriyadi atau akrab dipanggil Wawang. Pria yang masih berusia muda namun memiliki jiwa seni yang kental ini mengaku, terinspirasi dan termotivasi dari sang ayah yang juga berprofesi sebagai pengrajin logam mulia, perhiasan emas di Kotagede.

Ketika itu, Wawang dengan bakat yang mengalir dari ayahnya, ingin mengubah jalan hidupnya, membangun UKM dari bahan logam yang lain selain emas karena bahan logam emas sangat sulit dibentuk, bahan yang dapat diproduksi dalam jumlah massal dan disukai dan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang, pecinta seni dan penikmat seni, terutama seni budaya Jawa maupun Indonesia.

Akhirnya Wawang menemukan aluminium, beli, tembaga sebagai bahan dasar dari pembuatan seni kerajinanan.

Awalnya, tempat kerja belum  ada tempat yang memadai juga belum  adanya modal kerja, Wawang memakai garasi sebagai tempat produksi. Sebuah tempat yang belum dapat disebut layak sebagai tempat produksi. Dengan keterbatasannya, Wawang memberanikan dirinya untuk menerima order kecil-kecilan dari perorangan.

Dari sebuah garasi, usaha Wawang pindah ke tempat yang agak besar yaitu sebuah galeri di Kotagede, dengan dibantu pengrajin yang berjumlah 10 orang.

Wayang Klitik Anoman. Sumber wiroto.craft

 Hambatan dan jalan terjal terus datang dengan tidak adanya tenaga skill yang memang mampu melakukan kerajinan seni dengan teliti dan sangat berjiwa seni. Tenaga skill itu betul-betul sangat sulit ditemukan karena jika ada, mereka tidak bisa bekerja secara full time karena saat itu order belum menentu. Ketika tenaga skill sudah dimiliki, mereka lari ke tempat lain karena memang saat itu Wawang belum mampu memperkerjakan sebagai tenaga tetap karena order belum pasti tiap bulannya.

Namun, dengan proses perjalanan terjal itu dilaluinya dengan teguh. Setelah hampir 10 tahun, tepatnya pada sekitar tahun 2012, Wiroto Craft mengikuti pameran berskala nasional dan internasional yaitu INACRAFT di Jakarta. Wawang bertemu dengan salah seorang staf YDBA yang memang ikut membantu beberapa UKM yang juga membuka stand di pameran itu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline