Lihat ke Halaman Asli

Eki Tirtana Zamzani

Pendidik yang mengisi waktu luang dengan menulis

Banyak Cara Menjemput Malam "Lailatul Qadar"

Diperbarui: 4 Mei 2021   07:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Malam Lailatul Qadar - Republika.co.id

Semua manusia yang hidup di dunia tidak terlepas dari kesalahan dan dosa. Ramadhan menjadi bulan untuk melatih diri menjadi lebih baik. Ibadah berpuasa yakni suatu ibadah meninggalkan makan, minum, dan segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Jika kita lulus mengekang hawa nafsu selama berpuasa maka kita akan menjadi pemenang saat hari raya Idul Fitri telah tiba. Ada suatu malam di bulan Ramadhan yang lebih baik dari seribu malam yakni malam lailatul qadar

Setiap umat muslim berlomba-lomba untuk bisa berjumpa dengan malam lailatul qadar. Karena jika kita beribadah di malam itu nilai pahalanya akan setara dengan melakukan ibadah selama seribu malam.

Ternyata ada banyak cara untuk bisa menjemputnya. Tidak hanya melakukan ibadah yang bersifat keagamaan saja. Jika kita melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik dan diniatkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka hal ini bisa menjadi jalan kepada kita untuk bisa menjemput malam lailatul qadar yang istimewa.

Tiga Jenis Nafsu di dalam Kitab Suci Al-Quran

Menurut Imam Ghazali, sesuatu yang paling besar pada diri kita adalah nafsu. Jika kita bisa mengekang nafsu maka kita akan menjadi pribadi yang lebih baik. Berikut ini jenis-jenis nafsu di dalam kitab suci Al-Quran:

Pertama, nafsu muthmainnah. Itulah jiwa yang tenang karena iman, amal soleh, dan ketaatan kepada Rabnya. (Q.S ar_Ra'du: 28 dan QS. Al-Fajr: 27-28)

Kedua, nafsu lawwamah,  nafsu ini sering mencela orangnya disebabkan ia telah melakukan kesalahan, baik dosa besar, dosa kecil, atau meninggalkan perintah, baik yang sifatnya wajib atau anjuran. (QS. Al-Qiyamah: 2)

Ketiga, nafsu ammarah bis su'u. Suatu nafsu yang selalu mengajak pemiliknya untuk berbuat dosa, melakukan yang haram dan memotivasi pemiliknya untuk melakukan perbuatan hina. (QS. Yusuf: 53). (konsultasisyariah.com/ diakses pada hari Minggu, 26-05-2019)

Puasa yang baik menurut saya adalah puasa yang tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya. Berpuasa akan tidak terasa jika kita beraktivitas. Kebiasaan saya setelah sahur biasanya tidur. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline