Lihat ke Halaman Asli

Adi Arwan Alimin

Penulis Buku

Dari Pramuka Saya Menjadi Wartawan

Diperbarui: 9 Februari 2016   10:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Media. Sumber ilustrasi: PIXABAY/Free-photos

#Buat Indonesia Scout Journalist (ISJ)

Oleh Adi Arwan Alimin

Pramuka telah memberi peta jalan bagi pilihan hidupku. Itu dimulai ketika masih tercatat sebagai anggota Dewan Kerja Ranting (DKR) Wonomulyo, Kwarcab Polewali Mamasa (kini Polewali Mandar). Semua ini bermula saat saya sering membaca sejumlah terbitan Majalah Pramuka dan Bekal Pembina dari Kwarnas yang datang reguler di kantor kwarcab.

Saya menjadi anggota atau pengurus DKR tahun 1992-1994, lalu terpilih sebagai ketua DKR Wonomulyo 1994-1996. Medio tahun 1990-an ini merupakan awal mula saya memberanikan diri mengirim foto, atau kabar peristiwa ke Jakarta. Dengan mengandalkan pengiriman bahan via kantor pos, selalu tak ada jaminan bahwa bulan depan atau kapan, foto atau tulisan yang dibuat dari mesin ketik itu akan dimuat.

Cara yang kemudian amat primitif bagi era digital, rupanya selalu menyembulkan kehormatan bila foto atau rilis berita yang diedit itu, muncul di majalah.  Ketua Kwarcab kami almarhum HM. Masdar Pasmar kerap menepuk pundak penulis, bila beliau ditunjukkan adanya informasi kegiatan kwarcab yang muncul di media. Praktis ini bisa disebut otodidak, karena tak ada guru jurnalistik kecuali keberanian semata.

Pujian dari teman-teman dan pembina kemudian menjadi pemicu, penulis sendiri lupa telah berapa kali mengirim dan melihat perihal ini dimuat. Yang pasti foto dan hasil menulis tanpa teori itu, pertama kali dimuat di media yang diterbitkan kwartir nasional Gerakan Pramuka. Saat itu, pikiran saya mulai digayuti pertanyaan dan mimpi tentang dunia jurnalistik yang masih amat kabur. Pengalaman batin itu terlalu amat besar bagi seorang anak muda yang jauh dari Makassaar, apalagi Jakarta.

Lalu seiring waktu, beberapa senior menilai penulis memiliki bakat untuk terjun ke media massa. Saya memang gemar membaca, dan hobi menulis atau mengarang. Dengan modal itu, saya kemudian menerima ajakan bapak Burhnuddin Haruna, seorang wartawan senior untuk mengirim cerpen atau menulis berita untuk Mingguan Ajatappareng. Media ini kemudian menjadi Harian Parepos dan berbasis di kota kelahiran Presiden BJ. Habibie.

Hingga akhirnya pada akhir tahun 1990-an, penulis bergabung di Mingguan Sandeq Pos, sebuah media informasi yang diterbitkan dengan bekerja sama dengan Pemkab Polmas yang saat itu dipimpin Bupati Hasyim Manggabarani. Usia media ini cukup lama melewati satu periode masa jabatan bupati. Sepanjang tahun itu penulis tetap aktif di kwartir cabang Polewali Mamasa.

Berturut-turut penulis mendedikasikan catatan perjalanan di Tabloid Demokrasi, Newsroom Suara Radio Sawerigading-network Unesco. Saat di Radio Sawerigading penulis berkesempatan mendapat bimbingan dan pelatihan langsung dari mentor yang hebat, Arya Gunawan di Makassar.  Penulis juga sekaligus menjadi reporter lapangan KBR 68H Jakarta tahun 2000-an, yang saat itu berjaringan dengan Sawerigading.

Tanpa terasa penulis ternyata telah memilih profesi wartawan sebagai pilihan utama. Hingga hal ini memberi kesan berbeda bila kemudian hari menghadapi kursus mahir, karena mereka dihadapi pelatih yang tidak berstatus PNS. Maklum di daerah sebagian besar unsur pembina dan pelatih, atau pelatih pembina berasal dari guru atau pegawai kantoran pemerintahan. Saat ini beberapa pelatih berusia muda di Sulawesi Barat juga tercatat sebagai wiraswasta.

Saat penulis berkecimpung di Harian Radar Sulbar sejak tahun 2004 hingga 2011, aktivitas di Gerakan Pramuka tetap berjalan. Posisi sebagai redaktur pelaksana di media ini sangat membantu penguatan informasi kepramukaan.  

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline