Lihat ke Halaman Asli

Wijatnika Ika

TERVERIFIKASI

When women happy, the world happier

Bertani Asyik Tanpa Takut Kulit Bersisik

Diperbarui: 10 November 2018   01:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Para petani perempuan memanen padi dengan gambira di Banjit, Way Kanan, Lampung. Foto: Rinto Macho

Di zaman "Internet of Things" ini masihkah ada warga dunia yang bercita-cita menjadi petani?

Pertanyaan ini seringkali menyapa pikiran manakala membaca perkembangan dunia yang semakin melek teknologi. Manusia abad ini telah sampai pada posisi yang tidak terlalu sulit menghasilkan uang jika mampu menguasai teknologi. Menjadi endorser di Instagram hingga Youtuber membuat generasi muda mampu melampaui pencapaian generasi pendahulunya dalam hal finansial tanpa perlu berusah payah mengelola kebun atau sawah warisan orangtuanya.

Sebab, jika uang merupakan alasan utama manusia bekerja melalui berbagai profesi, maka abad ini dimenangkan oleh mereka yang menguasasi teknologi. Peradaban modern memberikan kita begitu banyak pilihan dan kesempatan untuk sukses, sebuah posisi yang dikejar seluruh manusia sejak mereka mengenal uang.

Nah, jika peradaban masa kini telah membawa kita pada cara pandang berbeda tentang profesi dan finansial, lantas bagaimana nasib profesi lainnya yang cenderung memiliki pola pikir tradisional seperti petani? Akankah pada suatu hari nanti profesi petani benar-benar mengalami penurunan dalam jumlah signifikan bahkan musnah? Jika hal demikian terjadi, siapakan yang akan memberi makan warga dunia?

***

Aku lahir dari keluarga dan tumbuh di lingkungan petani. Masa kecilku dipenuhi oleh kenangan tentang wangi getah rerumputan yang dibersihkan dari sela-sela batang kopi, areal persawahan yang menguning dan aliran sungai yang meliuk jika dilihat dari perbuktian.

Senang pula kunikmati burung-burung yang berterbangan memenuhi langit, kerbau yang berkubang nyaris sepanjang hari, gonggongan anjing yang menyertai tuannya saat berangkat ke dan pulang dari kebun, gemeretak kayu terbakar yang berubah menjadi arang dan abu untuk membakar singkong atau talas.

Belasan tahun silam, aku merasa sangat bahagia sebagai anak petani. Biasanya saat libur sekolah aku akan menyertai orangtuaku ke kebun kopi kami yang berjarak 7 km dari kampung yang biasa kami tempuh dengan berjalan kaki. Kebun itu terletak di badan gunung sebuah hutan lindung yang sosoknya terlihat menjulang lagi jumawa dari halaman rumah kami.

Pada saat musim hujan, aneka jamur akan bermunculan. Aku sangat suka memanen jamur kuping dan memasaknya untuk makan siang dengan aneka sayuran yang dipetik di areal kebun seperti pucuk labu siam, cempokak, leunca, terong, dan kecipir. Memetik jamur di musim hujan merupakan kenangan terindahku sebagai anak petani.

Jamur Kuping, bahan pangan yang membuatku bahagia sebagai anak petani. Foto: Shutterlock

Sepertinya, kenangan itu menggambarkan bahwa kehidupan petani begitu filosofis, makmur, bersahabat dengan alam, berkecukupan dan bahagia. Orang-orang kota sering bilang bahwa orang desa alias si petani hidupnya begitu nyaman dengan anugarah alam yang murni.
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline