Lihat ke Halaman Asli

Tinta Merah Rapor Kesehatan Nasional

Diperbarui: 17 Juni 2015   06:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Oleh: Linda Wieke Noviyanti*

*Mahasiswa Pascasarjana Keperawatan

Kekhususan Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan

Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Abstrak

Prestasi membanggakan telah dicapai oleh pemerintah Indonesia terkait dengan pencapaian indikator MDG’s. Millennium Development Goals (MDG’s) yang diartikan sebagai Sasaran Pembangunan Millenium merupakan keberhasilan suatu negara dalam mencapai indikator yang telah ditetapkan sesuai dengan deklarasi kesepakatan secara Internasional. Hal tersebut merupakan bagian dari konsekuensi terlibatnya Indonesia dalam kesepakatan global deklarasi MDG’s sehingga kebijakan pemerintah yang berpihak pada kesehatan harus tertuang dalam rencana strategi nasional. Selain rencana strategis, tentu pembiayaan dan hal teknis lainnya juga harus dipikirkan. Faktanya adalah apakah anggaran pemerintah telah berpihak dalam pembangunan kesehatan nasional.  Berdasarkan beberapa analisis proses kebijakan yang telah ada, desentralisasi kebijakan yang terjadi di bidang kesehatan justru melemahkan implementasi di daerah, karena proses monitoring maupun evaluasi kebijakan yang  belum terstruktur dengan optimal. Hal lain yang terjadi adalah terjadinya fragmentasi pelayanan kesehatan primer dan pelayanan sekunder hingga tersier.

Rekomendasi untuk menggantikan coretan tinta merah dalam bidang kesehatan nasional yang dapat dilakukan yaitu melakukan implementasi yang meliputi: meningkatkan akses dan jangkauan layanan kesehatan ibu dan neonatal yang berkualitas; meningkatkan pemberdayaan wanita dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan untuk menjamin perilaku yang sehat dan memanfaatkan layanan untuk ibu dan bayi baru lahir; dan mendorong keterlibatan masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan layanan kesehatan ibu dan neonatal. Selain itu, upaya menurunkan angka kematian ibu didukung dengan meningkatkan angka pemakaian kontrasepsi dan menurunkan unmeet need yang dilakukan melalui peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi.

Tantangan yang tak kalah besar adalah upaya peningkatan kesehatan ibu, penurunan angka kematian ibu dan pencegahan penyebaran HIV/AIDS di Indonesia mustahil dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah, terlebih dengan berbagai keterbatasan sumber daya yang dimiliki – tenaga, sarana prasarana, dan anggaran. Oleh karena itu, mutlak diperlukan kerja sama lintas program dan lintas sektor terkait, yaitu pemerintah daerah, sektor swasta, organisasi profesi kesehatan, kalangan akademisi, serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan baik dari dalam maupun luar negeri.

 Kata kunci: MDG’s, sasaran pembangunan millenium, tinta merah.

 

Prestasi membanggakan telah dicapai oleh pemerintah Indonesia terkait dengan pencapaian indikator MDG’s. Millennium Development Goals (MDG’s) yang diartikan sebagai Sasaran Pembangunan Millenium merupakan keberhasilan suatu negara dalam mencapai indikator yang telah ditetapkan sesuai dengan deklarasi kesepakatan secara Internasional. Ada delapan tujuan MDGs yang harus dilaksanakan oleh setiap negara yang mendeklarasikannya, meliputi: 1) Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, 2) Mencapai pendidikan dasar untuk semua, 3) Mendorong kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan, 4) Menurunkan angka kematian anak, 5) Meningkatkan kesehatan ibu, 6) Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, 7) Memastikan kelestarian lingkungan hidup, dan 8) Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Keberhasilan Indonesia sendiri merupakan bentuk komitmen terhadap kesepakatan yang telah dibuat. Indonesia telah berhasil menurunkan tingkat kemiskinan, sebagaimana diukur oleh indikator USD 1,00 per kapita per-hari, menjadi setengahnya. Kemajuan juga telah dicapai dalam upaya untuk lebih menurunkan lagi tingkat kemiskinan, sebagaimana diukur oleh garis kemiskinan nasional dan dari tingkat saat ini sebesar 13,33 persen (2010) menuju targetnya 8 – 10 persen pada tahun 2014. Prevalensi kekurangan gizi pada balita telah menurun menjadi 18,4 persen pada tahun 2007, sehingga Indonesia diperkirakan dapat mencapai target MDGs sebesar 15,5 persen pada tahun 2015. Upaya Indonesia untuk mencapai target MDGs tentang pendidikan dasar dan melek huruf sudah menuju pada pencapaian target 2015 (on-track). Bahkan Indonesia menetapkan pendidikan dasar melebihi target MDGs dengan menambahkan sekolah menengah pertama sebagai sasaran pendidikan dasar universal. Pada tahun 2008/2009 angka partisipasi kasar (APK) SD/MI termasuk paket A telah mencapai 116,77 persen dan angka partisipasi murni (APM) sekitar 95,23 persen. Usaha untuk mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan telah dicapai dan hasilnya telah meningkatnya kesetaraan gender disemua jenjang dan jenis pendidikan. Rasio angka partisipasi murni (APM) perempuan terhadap laki-laki disekolah dasar dan sekolah menengah pertama berturut-turut sebesar 99,73 dan 101,99 pada tahun 2009, dan rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun telah mencapai 98,85.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline