Lihat ke Halaman Asli

Kris Wantoro Sumbayak

TERVERIFIKASI

Pengamat dan komentator pendidikan, tertarik pada sosbud dan humaniora

Beda Adat, Siapa Takut? #14

Diperbarui: 2 Desember 2022   08:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pertemuan untuk menyampaikan hasil doa | dokumentasi pribadi

Juli 2017, saat Kris liburan akhir semester, Kris berencana mudik ke Salatiga. Yanti juga berencana mengunjungi adiknya nomor dua yang kuliah di Salatiga. Waktu ini sekaligus menjadi kesempatan untuk Kris dan Yanti bertemu dan mengobrol. Baru delapan puluh hari, namun Yanti sudah akan mengungkapkan sesuatu pada Kris. Mumpung bertemu.

Kris mengajak Yanti ke Eling Bening, salah satu daerah resto-wisata yang baru hits di Ambarawa waktu itu. Ditemani dua botol air mineral, sepiring pisang goreng dan iringan live music kami mengobrol dan membagikan hasil doa masing-masing.

Yanti sampai membawa laptop untuk membacakan daftar pertanyaan pada Kris. Macam wawancara calon pegawai saja. Meski agak grogi, Kris bisa menjawab semua pertanyaan dengan lancar. Setelah dirasa cukup, Yanti menutup laptopnya dan menyimpulkan.

Yanti sudah mendapat beberapa konfirmasi dari Kris. Lalu, apa tahap selanjutnya? Apakah Yanti bersedia berdoa bersama Kris? (Tidak langsung pacaran ya, karena tahapan doa perlu waktu cukup panjang. Semua demi mendapat Pasangan Hidup yang sesuai kehendak Tuhan)

Tanggapan Yanti adalah... Ya, bersedia berdoa bersama. Puji Tuhan!  Aku sampai tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan syukur, saking bahagianya. Bersyukur Tuhan izinkan aku mengalami progres dalam pencarian Pasangan Hidup. Tidak mudah, tapi berkat dan penyertaan Tuhan selalu ya dan amin.

Dalam mempersiapkan doa bersama, kami menyepakati beberapa daftar pokok doa untuk didoakan secara rutin, seminggu sekali. Kami merekap daftar pokok doa di Ms. Excel. Setiap akhir bulan, kami mengevaluasi doa mana yang sudah dijawab, mana yang perlu didoakan lagi dan menambahkan pokok doa lain di bulan berikutnya. Ini perlu komitmen dan kesetiaan, kami berjauhan.

Yang pertama-tama didoakan adalah hal-hal umum, seperti pengenalan pribadi, keluarga, budaya, maupun aktivitas masing-masing. Mulanya, Kris menganggap doa bersama ini bisa mengalir begitu saja, tidak perlu dibuat daftar. Padahal yang namanya doa bersama harus ada kesehatian dan kesepakatan.

Yang didoakan tidak lagi pergumulanku atau pergumulanmu, melainkan pergumulan bersama. Jujur, aku bukan orang yang disiplin berdoa. Saat mendoakan Yanti itu pun juga perlu perjuangan. Doa bersama ini bukannya terpaksa, tapi justru menjadi latihan bagi Kris supaya dalam relasi dengan Yanti bisa terus mengandalkan Tuhan melalui doa.

Selain doa bersama, kami juga menyepakati proyek doa puasa bersama seminggu sekali, yaitu tiap Senin. Puasa yang kami hayati tidak sebatas menahan haus dan lapar, tapi melatih supaya dalam segala kondisi kami bisa bersandar kepada Tuhan. Jam sahur dan bukanya juga lebih fleksibel. Biasanya jam 6 sahur, jam 6 sore berbuka. (Meski sering kali, kami sering kali sahur lebih dari jam 6)

Saat berbuka kami usahakan makan bareng secara virtual, sambil video call. Biar jarak jauh, tetap harus kompak dong. Tapi kalau Yanti pas lembur karena banyak kerjaan, terpaksa ya makan sendiri-sendiri.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline