Lihat ke Halaman Asli

Wahyu Langgeng Prastiyo

Belajar, Mengajar, Romanista, Penikmat Film

Perfect Strangers, Dialog dan Aktongnya Perfect!

Diperbarui: 22 Oktober 2022   19:33

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Film. Sumber ilustrasi: PEXELS/Martin Lopez

Saya sempat bengong setelah melihat ending yang membagongkan dari film ini. Namun, di sinilah kelasnya!

Film yang tayang secara eksklusif di layanan streaming @primevideoid ini merupakan remake ke-21 dari film aslinya yang berbahasa Italia garapan Paulo Genovese. 

Perfect Stangers mempertemukan 4 sahabat karib beserta pasangannya dalam sebuah jamuan makan malam di malam gerhana bulan. Di tengah perjamuan mereka sepakat untuk menyajikan isi HP mereka masing-masing di atas meja dalam sebuah permainan. Di sinilah, cerita berkelasnya dimulai!

Hanya berlatar sempit di dalam sebuah apartemen, tidak membuat film ini kekurangan konflik. Pertikaian di antara para karakter, baik masalah persahabatan, pekerjaan, hingga perkara rumah tangga, semua bermula dari pesan, telepon, dan gambar yang muncul dari HP mereka. 

Satu per satu rahasia mereka tentang kehidupan pribadi yang bahkan tidak bisa disampaikan kepada pasangannya terbongkar.

Semua konflik 'rahasia privasi' tersusun dengan rapi, mengalir,  menegangkan dan yang paling penting, susah ditebak! Plot film bergulir dengan mulus, konflik dikupas beruas-ruas, bertumpuk-tumpuk dan hei, pemainnya seolah tidak sedang berakting dalam membawakan dialognya! 

Benar, jika dikatakan kekuatan utama dalam film ini adalah dialognya yang melekat dalam diri para karakter. Sebagai penonton kita bakal dibuat super berempati terhadap para karakternya hanya dengan menyimak dialog mereka.

Selain plot, dialog, dan akting para pemain, saya juga suka dengan pembangunan latar belakang karakternya. Satu per satu sisi dikulik dari tiap karakternya dalam dialog yang natural, seolah tanpa mengada-ada. Mulus begitu saja.

Rako Prijanto sebagai sutradara sukses mengemas rasa khas masyarakat urban Indonesia di filmnya ini. Dengan membawa segudang isu urban seperti  perselingkuhan, gender, parenting, pemanfaatan teknologi, dsb., film ini menjadi tontonan perenungan bagi kita dalam banyak hal.

Sebagai sebuah film remake, film ini tak mewajibkan kita menonton  dan membandingkannya dengan film aslinya. Biarlah film ini berdiri sendiri, sebagai sebuah karya yang berlabel bintang lima!

#ulasanfilm




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline