Lihat ke Halaman Asli

Vika Kurniawati

Freelancer

Yogyakarta, Kota yang Selalu Mengizinkan Disebut Rumah Bersama

Diperbarui: 23 Agustus 2017   08:57

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Permainan Ular Naga. Doc:Pribadi

"Mba, aku ketinggalan kereta." Memang hanya terdiri dari  empat kata namun sudah menohok kembali  keresahan diri. Ada sedikit rasa bersalah karena urung mengingatkan gadis berlensa serta berlogat Jawa Timur tersebut. Tanggapannya saat tiket yang lumayan nominalnya menjadi hangus di malam ketiga di Jogja, "Tak mengapa."

Saya tidak mendapati adanya kekecewaan yang berarti saat membaca percakapan kami di gawai selanjutnya, bahkan keinginannya untuk kembali lagi sudah dijanjikannya. Sedikit mengelikan karena dia masih dinaungi langit Jogja saat  dia, dan saya mentertawakan diri sendiri. Dia adalah ekstrovet flegmatis berbalik dengan saya yang introvert melankolis.

Hari pertama bersama Adis. Doc:Adis

Titipan langit berupa tetesan yang disebut gerimis sebenarnya sudah menemani dirinya sejak malam pertama menjejakan kaki. Saya menyempatkan diri menjemput dan menemaninya mulai dari pelataran Stasiun Lempuyangan. Malam kali kedua di mana dia menyusuri kota yang mendengar tangisan pertamaku saat bersua dengan dunia, saya urung bisa menemani petualangannya. Namun menjaga melalui doa dan sekumpulan percakapan melalui gawai tentu saja.

"Aku akan pulang sembari membeli Gudeg." Pesan terahkir yang saya terima karena dia pamit untuk memesan taksi. Petir sudah riuh menyapa sepertinya dan membuat kaca-kaca cafe kekinian mengurung dirinya dengan segenggam Gelato. Satu jam yang berlalu membuat gawai rajin saya sentuh ataupun sekedar memasang telinga lebih tajam, berharap ada satu dua kabar dari gadis yang sebenarnya sangat mandiri. Dia pernah menjadi relawan di garis pedalaman Indonesia, jadi kekhawatiran saya sebenarnya tak cukup kuat dalam logika. Biarlah.

Gado-gado khas Jogja. Doc:Pribadi

Adis, hanyalah segelitir turis dalam negeri yang menyambangi kota sepeda (motor) dalam hitungan hari namun sudah  menanam memori seumur hidup. Segelas Kopi Joss, tarikan segar Jamu Kunir, hirupan bakaran Sate Usus dengan suapan Sego Kucing sudah menawan perut dan hatinya. Sayangnya dia belum sempat mencicipi gado-gado khas Jogja. Sederet kombinasi kuliner khas yang selalu  bersanding romantisme Jogja.

Kisah diutarakannya janji untuk kembali ke Yogyakarta, bukan hanya terluncur dari Adis seorang. Sahabat, rekan bisnis, saudara lain pulau, bahkan teman di seberang Negara juga ingin bersua. Bukan dengan saya saja tentunya, beberapa memang tertawan hatinya pada warga maupun  mempunyai mantan kekasih yang bermukim di Yogyakarta. Sebuah alasan yang penting bagi pribadi melankolis seperti saya. Seperti Yogyakarta yang terbentuk dari rindu dan kenangan, begitu juga pribadi melankolis yang terpahat dari hati. Bagaimana dengan anda?

Saat mendapati untaian mahkota bulu burung cendrawasih yang dikenakan peserta karnaval 17 Agustus di lingkungan, saya teringat saudara sepupu saya dari Papua. Mereka berduyun-duyun meraih ilmu di Sekolah Dasar sampai menjadi sarjana, dan hasil dari proses panjang tersebut tumbuhlah kecintaan akan Yogyakarta. Salah buktinya dalah perubahan logat saat berbicara dan menyatunya perilaku dengan lingkungan sekitarnya. Kebiasaan keharusan makan nasi bagi orang Jawa cukup menular pada saudara saya. "Makan belumlah disebut makan jika belum ada nasi."

Butir padi yang dijemur. Doc:Pribadi

Hampir sebagian teman saya adalah perantau, yang menjadi logat jawa urung terdengar saat berbicara. Demikian juga mereka, terkadang hanya terdengar sedikit sengau ataupun terbata-bata melafalkan kalimat dalam bahasa jawa. Sebuah kerja keras yang patut diacungi ibu jari mengingat tak mudah mempelajari sebuah bahasa baru.

Saya teringat semasa duduk di bangku Sekolah Dasar di mana pelajaran bahasa Jawa menjadi salah satu disiplin ilmu. Setiap siswa luar daerah tetap mendapat tugas untuk menghapal, dan menulis aksara jawa lengkap dengan artinya. Saya hanya termangu pada seorang teman pria yang dengan santainya mengerakan ujung pena membentuk rangkaian kalimat dengan aksara jawa. Saya menjadi termangu-mangu (di samping memang menaruh hati pada pria tersebut) karena sebagai warga asli jawa saja mendapati kesulitan menarikan bentuk serupa seni tersebut. 

Aksara Jawa di trotoar Malioboro. Doc:Pribadi

Saya menjadi merasa hanya setengah warga Jogja saat mendapati dia lebih mahir daripada siswa yang lain di pelajaran  bahasa jawa. Memang benar, aksara Jawa memang bukan semata milik orang Jawa, tapi milik semua pribadi yang mau mempelajarinya. Terbuktilah sudah kalimat , "Menjadi Jogja menjadi Indonesia." Demikian juga saat menemani teman saya, yang saat datang ke Yogya, selalu saja melakukan ritual duduk di bangku maliboro. Sebuah ritual yang terkadang hanya diselingi melihat langit semburat orange di atas titik nol kilometer. Pada saat demikian, saya merasa para perantau lebih mendalami romantisme Yogyakarta daripada para penghuninya.

Mainan Bambu. Doc:Pribadi

Tentu kota di mana saya menghabiskan masa balita, remaja hingga dewasa, tidak selalu tanpa warna lain. Seperti kuliner Yogyakarta tidak hanya berupa Gudeg atau rekan sejawatnya, maka sisi lain perkembangan inovasi juga hadir. Apa pertambahan, inovasi baik kuliner maupun perkembangan jumlah hunian dan tempat wisata akan mengubah Yogyakarta?
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline