Lihat ke Halaman Asli

Aku, Ular, dan Kupu-kupu

Diperbarui: 24 Juni 2015   03:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Jika hari cerah, aku akan berlari-lari kecil ke padang rumput itu. Padang rumput itu sebenarnya adalah lahan terbengkalai di belakang rumah ibu yang mungil. Lahan itu cukup luas, berbatasan dengan sebuah bangunan besar yang berantakan. Sepertinya bangunan itu dulunya sebuah gudang. Atau mungkin pabrik, pabrik yang lebih kecil.

Ibuku --yang selalu menyemprotkan parfum beraroma tajam sebelum berangkat kerja di sore hari-- sering mengingatkanku agar tidak bermain-main di padang rumput itu.

"Ada ular," katanya. "Kamu tahu, bisa-bisa masuk rumah sakit kalau tak hati-hati memilih tempat bermain. Kamu akan digigit!"

Meski sulit, aku berusaha membayangkan seekor ular yang bergigi tajam, menggigitku.

"Lagi pula, ular-ular akan pergi ke mana lagi selain mencari belukar yang teduh untuk bersembunyi? Di situlah, ular-ular itu akan mengintipmu," kata ibu pada hari yang lainnya.

Ibu tidak tahu, bahwa selama ibu tidur seharian, aku masih sering bermain-main di sana. Aku juga tidak pernah bercerita, kalau aku pernah bertemu dengan seekor ular di tempat itu. Seekor ular yang kulitnya belang-belang, suatu kali merayapi kedua kakiku yang telanjang. Waktu itu aku sedang tidur-tiduran di hamparan rumput hijau sambil memandangi bentangan biru cerah dengan awan-awan putih tipis di langit. Ada yang terasa aneh di kulitku saat mahluk melata itu bertamasya sebentar di sana. Rasanya dingin, lembut, dan geli. Namun sayang, rupanya ular itu hanya numpang lewat saja. Padahal, aku ingin merasakan sentuhan yang tidak pernah kurasakan itu lebih lama lagi. Lagipula, pikirku, apa benar seekor ular akan menggigit? Seingatku, ibu juga pernah pulang bersama seorang laki-laki yang membawa ular ke rumah. Aku tidak tahu seperti apa ular yang dibawa laki-laki teman ibu itu; kecilkah? Waktu itu ibuku menyuruhku membelikan tisu dan rokok agak jauh dari rumah. Jadi sewaktu aku kembali, aku hanya mendengar suara ibu sedang bermain-main dengan ular itu.

"Ah, ternyata. Ularmu kecil saja."

"Jangan salah. Biasanya, justru binatang kecillah yang paling berbahaya sengatannya."

Aku tak mendengar apa-apa selanjutnya, selain suara cekikikan berbaur dengan seorang penyanyi dangdut bersuara genit dalam radio di kamar ibu.

Sejak itu, ibu sering bersama laki-laki yang membawa ular itu. Biasanya, ibu akan dijemput dengan sepeda motor di sore hari sewaktu akan berangkat kerja. Aku senang juga sebenarnya, karena dengan begitu, ibu tidak perlu berjalan kaki lagi ke tempat kerjanya yang jauh di dekat pasar lama.

Tapi sebenarnya ada yang lebih membuatku tertarik di padang rumput itu. Suatu pagi, saat membuka jendela kamarku, aku menemukan sebuah pemandangan yang menggirangkan hatiku. Seekor kupu-kupu berwarna keunguan terbang rendah dan hinggap di rimbunan bunga mawar yang tumbuh liar di bawah jendela. Aku segera berjingkat-jingkat ke luar rumah untuk menangkap kupu-kupu ungu itu. Namun sayang, langkah-langkah kakiku yang gegabah telah mengagetkan kupu-kupu itu, sehingga sebelum tanganku berhasil menangkapnya, mahluk bersayap indah itu sudah terbang terlebih dulu. Kupu-kupu itu terbang menuju padang rumput di belakang rumah. Aku pun dengan suka ria mengejarnya. Saat itu aku membayangkan kupu-kupu itu akan segera menjadi milikku. Aku akan mengajaknya bermain-main bersama di kamarku. Aku juga akan menunjukkannya pada ibu. Pasti ibu juga suka melihat kupu-kupu, pikirku. Aku pernah mendengar ibu mengobrol tentang kupu-kupu dengan seorang perempuan teman kerjanya yang mampir ke rumah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline