Lihat ke Halaman Asli

Ofi Sofyan Gumelar

TERVERIFIKASI

ASN | Warga Kota | Penikmat dan rangkai Kata

Kenapa Susah Bermaaf-maafan?

Diperbarui: 22 Mei 2020   22:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi (sumber: imajinaxi.com)

Saat memaafkan kita tidak sedang mengubah masa lalu, tapi sedang memperbaiki masa depan -- Bernard Meltzer

Ketika saya mulai menulis artikel ini, saya baru saja melihat breaking news di televisi. Pengumuman Menteri Agama perihal hasil sidang isbat yang memutuskan bahwa hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Minggu, 24 Mei 2020. Dua hari lagi lebaran.

Idul Fitri hakikatnya hari dimana kita terlahir suci kembali. Selama bulan ramadan ini kita melaksanakan ritual ibadah yang amalnya dilipatgandakan, segala do'a dikabulkan dan berharap semoga hitungan amal kita bisa lebih besar dibanding dosa dan kesalahan kita. karena itu, di hari lebaran hitungan hidup kita kembali ke titik nol. Suci kembali.

Demi mencapai kesucian diri tersebut, urusannya bukan hanya antara kita dengan Allah SWT, tetapi juga dengan sesama manusia dimana sebagai makhluk sosial kita tak bisa lepas dari interaksi dengan manusia lain. Kita berinteraksi dengan keluarga, teman, tetangga, dan orang yang mungkin sekelebat hadir di episode hidup kita.

Namanya interaksi, pasti ada hal-hal yang tak diinginkan. Entah itu kita berbuat salah, atau sebaliknya orang lain yang begitu kepada kita. Hati ini kadang jengkel, marah atau dendam kepada orang lain, dan bisa jadi juga orang lain gondok kepada kita.

Karena itulah, menjelang hari lebaran kita dianjurkan untuk saling bermaaf-maafan, biar dosa kepada orang lain tersebut bisa terhapus. Sejatinya bermaafan juga tak melulu harus di masa lebaran, bahkan dalam keseharian juga kita harus saling bermaafan apabila berselisih. Rasul pernah berucap kalau sesama muslim itu gak boleh bertengkar lebih dari tiga hari. Artinya, cukup sebentar saja marahannya.

Masalahnya, memaafkan dan meminta maaf itu sama-sama berat bro! Gampang untuk dianjurkan susah untuk dilakukan. Untuk mengucapkan kata maaf, dan untuk tulus memaafkan itu levelnya sama-sama berat. Betul gak?

Pernah punya pengalaman betapa beratnya untuk meminta maaf dan memberi maaf? Saya sering. Tapi itu dulu, di masa sebelum saya bertemu dengan wanita yang menjadi istri saya. iya, darinya saya belajar untuk bisa meminta maaf dan mudah memberi maaf. Serius.

Dulu, saya termasuk orang yang pintar menyimpan amarah. Jika kesal kepada orang, saya termasuk orang yang kerap mendendam. Kalau punya kakeuheul ke orang, saya bisa berhari-hari, berminggu-minggu dan berbulan-bulan mengingat terus kekesalan itu. buat orang seperti ini, percayalah gengsinya sangat tinggi untuk bisa memaafkan orang apalagi berucap meminta maaf.

Perlahan sikap itu berubah setelah saya berinteraksi dengan wanita yang sekarang menjadi pendamping hidup saya. Sejak jaman pacaran, saya mempelajari betapa mudahnya ia meminta maaf Ketika berbuat kesalahan. Sesuatu yang menurut saya istimewa ketika ia mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Sebaliknya, jika memang saya berbuat salah, ia tak segan meminta saya untuk menyatakan permintaan maaf.

Sungguh, dari pengalaman bertahun-tahun berinteraksi dengannya, lidah saya jadi mudah berucap maaf, hati saya gampang luluh untuk memaafkan kesalahan orang, dan demikian pula hati ini tak keras untuk mengakui kesalahan diri.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline