Lihat ke Halaman Asli

Supartono JW

Pengamat dan Praktisi

Menebar Kebenaran dan Kebaikan Hakiki?

Diperbarui: 24 Januari 2022   20:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Supartono JW


Menebar kebenaran dan kebaikan yang hakiki, lebih sulit dari yang manipulasi. 

(Supartono JW.24012022)

Sejatinya, dalam diri setiap manusia, khususnya bagi yang sudah mengenyam bangku pendidikan, embrio untuk selalu berbuat kebenaran dan kebaikan sudah tertanam di dalam lubuk hati dan pikiran. Namun, perbuatan benar dan baik itu pun dalam praktiknya akan sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal seseorang.

Tak asing, kita menjumpai pernyataan: Tidak apa berbohong untuk kebaikan. Bahwa pernyataan tersebut salah. Namun, dalam praktik kehidupan nyata, pernyataan tersebut justru sudah dijadikan pedoman dan panutan oleh masyarakat. Mendarah daging.

Padahal berbohong adalah perbuatan salah. Tetapi karena dipadukan dengan kata baik, berbohong jadi perbuatan yang dimaafkan oleh para pelaku sendiri. Sebab itu, perbuatan bohong, selain mendarah daging, juga seolah halal-halal saja diperbuat oleh segenap individu manusia. 

Bahkan menjadi tradisi dan budaya demi medapatkan tujuan dan keinginan dengan cara yang tidak benar dan tidak baik, meski si pelaku tahu risikonya bila perbuatan bohong dan tak baiknya akhirnya terbongkar dan ketahuan, ada saknsi dan hukuman baik di pengadilan dunia mau pun akhirat.

Terlebih, sejak hadirnya media sosial (medsos). Seseorang melakukan kegiatan tertentu dan harus berbuat kebohongan dengan pihak terkait atau tertentu, tetapi dia tak menyadari bahwa kebohongannya ternyata terbongkar tanpa disadari. 

Foto atau video kegiatannya yang di tempat lain, ternyata dipublikasikan oleh orang lain, yang tak satu skenario bohong dengan dirinya karena kegiatannya justru di share di medsos atau menjadi status di medsos.

Ada juga orang yang terpaksa berbuat tak benar dan tak baik, demi melepaskan diri dari cengkeraman, yang terus merugikan dirinya. Akhirnya menjatuhkan pilihan dengan berbuat tidak benar dan tidak baik, terpenting dapat lepas dari cengkeraman yang selama puluhan tahun membuat dirinya terus dirugikan dan didzalimi.

Di ranah lain, persaingan politik di Indonesia dan dukungan terhadap junjungannya, juga terus menebar perbuatan tak benar dan tak baik oleh para simpatisan yang berbayar maupun gratisan, terus bergulir tak lekang waktu. 

Terus meninggalkan dan membangkitkan rasa dendam dan permusuhan tak berujung. Terlebih, ada ujung tombaknya yang terus mengeruhkan suasana dengan kicauan dan cuitannya. Juga dengan hasil survei-surveiannya sesuai pesanan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline