Lihat ke Halaman Asli

TJIPTADINATA EFFENDI

TERVERIFIKASI

Kompasianer of the Year 2014

Pikiran Mendahului Realita

Diperbarui: 9 Mei 2023   20:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi: explore.com

All The Miracles Begin In the Mind

Mungkin kita semuanya sudah pernah mendengarkan dalam seminar motivasi ataupun membaca buku buku motivasi,sebuah kalimat sederhana yakni:"All the miracles begin in the mind" Siapa yang pertama kali mencetuskan, belum saya temukan data yang autentic. Yang pasti bukan kata kata dari diri saya pribadi.  Pesan yang tersirat adalah :"Beranilah bermimpi besar untuk mengubah nasib ,karena semua keajaiban di semesta ini berawal dari pikiran. 

Dulu bercerita tentang orang bisa terbang,dianggap khayalan ,tetapi kini setiap orang bisa terbang asal punya uang untuk beli tiket pesawat. 

Ini bukanlah permainan kata kata,melainkan menjadi dasar pijakan dalam menjalani hidup .Sebagai contoh sederhana,sebelum kita sampai ketempat yang dituju,pasti dalam pikiran kita sudah ada gambaran untuk kesana. Sebelum mendaki sebuah puncak bukit,pasti dalam pikiran kita sudah ada rencana. Kalaupun ada yang mengatakan :"Tetiba saya merasa tertarik untuk mendaki bukit" hal tersebut hanyalah sekedar pemanis cerita. Pasti dalam hatinya sudah punya niat untuk suatu waktu mendaki perbukitan ataupun gunung. Hal ini dapat dijadikan kilas balik dalam ruang kehidupan kita secara keseluruhan.  Oleh karena itu ,tidak berlebihan bila dikatakan bahwa setiap orang adalah Perancang bagi nasib dirinya sendiri.

Tak Seorangpun Dapat Memilih Dimana Ia Akan Dilahirkan
Tidak ada seorangpun yang dapat memilih,dimana ia akan dilahirkan ,tapi setiap orang dapat memilih,hidup seperti apa yang diimpikannya. Karena itu perlu hati hati dalam menentukan pilihan hidup kita. Karena jalan hidup yang dipilih tidak hanya semsata mata mempertaruhkan masa  depan pribadi,tapi juga mempertaruhkan masa depan keluarga kita,bila kita sudah berkeluarga 

 " Salah membajak  sawah,maka yang akan rusak adalah padi semusim.tapi salah menentukan pilihan hidup,maka yang akan rusak adalah seluruh hidup kita" ( saya dengar kalimat ini disampaikan oleh MenPan pada waktu itu Brigjen Pol Taufik Effendi) 

Prinsip Hidup Adalah Bagaikan Pondasi Membangun Rumah

Karena itu,agar jangan sampai salah menentukan arah jalan hidup,perlu memiliki prinsip hidup .Yakini sepenuh hati dan jadikan pedoman dalam menghadapi berbagai problema kehidupan. Kalau kita berpikir : "Sudah nasib saya menjadi kuli,mau apa lagi?" Bila hal ini diulang ulangi ,maka secara tanpa sadar,akan jadi doa kita .Dan kelak akan jadi kenyataan

Sebaliknya,bila kita yakin  :"Saya yakin,takdir ada pada Tuhan,tapi nasib di tangan setiap orang . Saya yakin akan mampu mengubah nasib ,maka pikiran alam sadar akan merekam niat ini dan menjadikannya realita kehidupan. 

 Ada kalanya hidup itu enak,lemah lembut dan  manis, tapi tanpa terduga ,bagaikan tsunami, gelombang hidup dapat  berubah menjadi keras,terjal, pahit dan menyakitkan. Bahkan tidak jarang menerpa kita tanpa berbelas kasih. Dan disaat hidup dalam  keterpurukan,jam seakan berhenti berdetak. Karena hidup penuh dengan misteri yang seringkali  tidak terjangkau oleh nalar dan kemampuan berpikir kita. Ada begitu  banyak hal yang sebelumnya sama sekali tidak termasuk dalam prediksi  kita, tiba tiba saja bisa terjadi. 

Dengan memiliki prinsp hidup yang kokoh,maka kita tidak akan terhenti ditengah jalan,apapun yang  menghadang. Kalau seandainya,saya tidak memiliki prinsip hidup,maka kemungkinan besar hingga saat ini,saya masih menjadi Penjual kelapa parut di Pasar Tanah Kongsi 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline