Lihat ke Halaman Asli

Tito Adam

TERVERIFIKASI

Social Media Specialist | Penulis | Fotografer | Editor Video | Copy Writer | Content Writer | Former Journalist

Rasulullah, Umar bin Khattab dan Bapak Saya Jadi Panutan Dalam Jalani Hidup

Diperbarui: 3 Mei 2021   22:41

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi. Sumber : Kompas

Kalau ditanya, siapakah orang yang menjadi panutan saya, jawaban saya adalah Rasulullah, Umar bin Khattab dan bapak saya. Ketiga orang ini menginspirasi saya dalam banyak hal.

Bapak saya mungkin bukan siapa-siapa. Bukan pula golongan sahabat Rasulullah, tapi darinya lah saya mengenal Rasulullah dan para sahabatnya.

Di saat saya bersedih, bapak saya selalu berpesan untuk salat. Menangis dan terus merenung tidak akan menyelesaikan masalahmu. Masalah datang dari Allah, kepada Allah pula semua masalah kembali.

Hal ini lalu membuat saya tentang perjalanan isra miraj Rasulullah. Ketika di titik terendah kesedihannya, Allah mengajak nabi untuk bertemu dan memberikan perintah salat.

Saya dulu waktu kecil merupakan anak yang banyak tanya. Semua orang paling benci kalau saya banyak tanya. Tidak dengan bapak saya, dia sabar meladeni pertanyaan saya.

Tidak jarang saya bertanya tentang pertanyaan absurb. Contohnya, apakah orang yang sedang sakit dan diinfus diperbolehkan puasa. Bahkan pernah saya bertanya, jika setiap langkah diitung pahala saat menuju masjid untuk salat, bagaimana jika saya naik motor. Hitungannya bagaimana.

Terkadang bapak saya sering membuka buku-bukunya untuk menjawab pertanyaan saya. Bapak saya seorang guru, jadi dia punya banyak buku dan suka membaca. Meskipun bukan guru agama, tapi bapak saya coba menjawab sejauh yang dia tahu.

Karena semakin sering bertanya, bapak saya lalu meminta saya untuk membaca perjalanan hidup Rasulullah. Siapa tahu, jawaban-jawaban atas pertanyaan saya ada jawabannya.

Semenjak itulah, saya jadi mengidolakan panutan seluruh umat muslim di dunia. Terlebih, saat beliau meninggal, kata terakhirnya adalah umatnya. Di situ, saya semakin mengidolakannya.

Tidak hanya itu, cerita tentang bagaimana Rasulullah menyuapi wanita pengemis tua Yahudi yang buta setiap hari di pasar. Mungkin ini hal biasa, tapi bagaimana jika setiap hari itu pula wanita tua itu selalu menghina Rasulullah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline