Lihat ke Halaman Asli

Thonthowi Dj

Networker

Bijak di Tengah Pandemi yang Sulit

Diperbarui: 18 April 2020   09:39

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Sebuah teks whatssapp masuk ke HP saya. Pengirimnya, mantan asisten rumah tangga saya. "Tukang bangunan dan cuci gosok," tulis dia seraya menyertakan emoji nyengir.  Dia mengirim pesan untuk membalas status saya yang memasang gambar sebuah gunung es hanya kelihatan sedikit puncaknya di atas permukaan air. Sedangkan badan gunung, yang ukurannya jauh lebih besar,  tidak kelihatan karena berada di bawah permukaan air.

Puncak gunung es tersebut ada tulisan "Kasihan Ojol".  Tulisan tersebut mengacu pada seringnya pembahasan dampak wabah Covid-19, dengan mengangkat kisah para pengojek online, yang menurun drastis penghasilann ya. Adapun di badan gunung di bawah permukaan air bertuliskan berbagai profesi  lain, yang masih jarang diangkat kisahnya.  Profesi tersebut antara lain guru les privat, pedagang kaki lima, tukang becak, pebengkel, pemilik dan karyawan penginapan, pengusaha penginapan,  dan pegawai toko oleh-oleh.

Karena tukang bangunan dan cuci gosok ga masuk di dalamnya, maka mantan ART keluarga saya tersebut mengirimnya pesan. Sejak berhenti menjadi ART karena hamil anak ketiga, dia memang memutuskan hanya menerima jasa cuci dan setrika pakaian saja. Pelanggannya kebanyakan adalah pasangan keluarga yang bekerja kantoran.

Karena banya pelanggannya yang akhirnya bekerja dari rumah, maka pesangan cuci dan setrika pun menjadi merosot. Banyak pelanggannya yang memutuskan untuk mencuci dan setrika sendiri. Adapun suaminya adalah tukang bangunan. Order untuk membangun rumah, toko, atau perkantoran hampir tak ada lagi.

Tentu saja masih banyak profesi lain yang terdampak wabah covid-19 ini. Beruntung sejumlah profesi masih bisa memberikan penghasilan karena sangat dibutuhkan masyarakat atau dunia kerja, khususnya di kota-kota besar. Misalnya office boy/girl, pekerja pom bensin, pekerja minimarket, tenaga kontrak di pabrik atau perkantoran, tenaga medis dan lain-lain.

Banyak di antara mereka menggunakan angkutan umum untuk menuju tempatnya bekerja.  Bagi yang bekerja di DKI Jakarta dan tinggal di wilayah sekitarnya (Jawa Barat dan Banten), hingga hari ini (17/4) masih beruntung karena meski dibatasi, mereka masih bisa menuju tempat mereka bekerja dengan menggunakan KRL (kereta rel listrik), atau pun busway.  

Kendati dibatasi sejalan dengan penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di DKI Jakarta, masih beroperasionalnya KRL misalnya, sangat disyukuri para pegawai atau pedagang yang tinggal di Maja atau Rangkasbitung, Banten yang perlu ke Jakarta. Ongkos transport mereka jauh lebih murah dengan naik KRL.

Berdasarkan data PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) pda 2019, mayoritas penumpang moda transportasi ini adalah pegawai swasta (65 persen). Tingkat pendidikan terbanyak penumpang KRL adalah lulusan SMA (57 Persen). Mayoritas penumang KRL berpenghasilan Rp3 juta-Rp4 juta sebulan (32 persen). Penumpang KRL dengan pengeluaran rata-rata per bula Rp2 juta-Rp3 juta per bulan menjadi mayoritas (35 persen). Dan, sebanyak 47 persen penumpang KRL menghabiskan Rp5.000-Rp7.500 biaya transportasi pribadi untuk KRL per hari.  Lalu, sebanyak 36 persen penumpang KRL rata-rata memiliki 4 orang anggota di keluarganya.

Dengan profil tersebut terlihat, bahwa penggguna KRL adalah mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah.  KRL menjadi moda transportasi sangat vital bagi mereka, guna menunjang keberlangsungan hidup keluarganya.

Tak heran, ketika lima Kepala Daerah di Bogor, Depok, dan Bekasi -- yang kemudian diperkuat Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan Gubernur DKI Anies Baswedan, mengusulkan penghentian operasi KRL,  banyak pengguna KRL yang memprotes. 

Budi, seorang pekerja lepas di salah satu perusahaan otomotif meyatakan hal senada. "Kereta diberhentikan sementara? Ya, tidak setuju. Sementara aktivitas Jakarta ke Bekasi, Bogor, gimana? Busway saja sudah dikurangi. Lalu yang kerja bagaimana?" ujarnya kepada rri.co.id. Baginya, KRL merupakan moda transportasi praktis dan ekonomis andalan rakyat, sehingga tidak boleh dihentikan

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline