Lihat ke Halaman Asli

Masih Zaman Lulusan Corat Coret Seragam?

Diperbarui: 8 Mei 2016   08:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hura Hura Kelulusan SMA 2016 (Photo From Velia Anggita Putri)

Hari kelulusan memang selalu di tunggu tunggu oleh para pelajar, terutama SMA dan SMP. Sepertinya Hari kelulusan memang menjadi momok yang menakutkan, sebab disitulah hasil kerja keras dan dukungan orang tua di umumkan. Tepat di hari kemarin, Sabtu 007 Mei 2016 pengumuman kelulusan untuk tingkat SMA atau sederajat diumumkan. Sayangnya di hari kelulusan pula banyak sekali huru hara yang di lakukan oleh para pelajar.

Hari kelulusan masih menjadi moment untuk hura hura sesaat. Semua pelajar berbondong bondong mencorat coret bajunya lalu melakukan konvoi. Yang lebih gila lagi mereka banyak melanggar aturan lalu lintas. Meski sudah banyak larangan dari kepolisian mengenai konvoi saat hari kelulusan, nyatanya tiap tahun konvoi ini menjadi tradisi.

Karena dilarang untuk melakukan konvoi di jalan raya atau jalan jalan protocol utama, para siswa ini lebih meresahkan saat mereka konvoi melalui jalan jalan desa. Jumlah yang banyak dan tak jarang knalpot mereka yang bising menambah keresahan warga. Bayangkan saja jika jumlah mereka puluhan bahkan ratusan melintas di jalan jalan desa yang tidak terlalu lebar.

Baik memang jika pihak kepolisian melarang mereka untuk melakukan konvoi di jalan raya, tapi tidak berarti mereka konvoi di jalan jalan desa. Dari pihak sekolah juga sudah mengupayakan pencegahan agar anak didiknya tidak melakukan corat coret, konvoi dan hura hura. Namun sayangnya semua larangan itu hanya sebatas omong kosong belaka. Kenapa demikian? Tidak adanya sanksi yang tegas membuat para pelajar ini tak merasa takut.

Setiap tahun pihak sekolah selalu menghimbau anak didiknya untuk menyumbangkan seragam yang dimiliki dari pada di corat coret. Nyatanya para siswa lebih memilih mencorat coret seragamnya dibanding untuk di sumbangkan. Alasannya klasik, mereka selalu mengatakan bahwa baju mereka yang sudah di warna dan di tanda tangani oleh teman teman akan disimpan sebagai kenang kenangan. Yang benar saja, lalu apa manfaatnya? Jelas tidak ada.

Hari kelulusan memang seperti menjadi hari hura hura, bebas melakukan apa saja, mungkin juga “pesta seks”. Tapi kita jangan berpikiran buruk, walaupun banyak siswa yang rela melepas jilbabnya demi lebih leluasa untuk berhura hura namun saya yakin pasti jarang ada yang berpesta, apalagi sudah jelas jelas di larang. Yang lebih mengkhawatirkan jika mereka pesta narkoba, mau jadi apa mereka nantinya?

Kesenangan sesaat yang mereka lakukan ini benar benar tidak bermanfaat. Yang perlu di tandai adalah apa yang akan mereka lakukan setelah lulus? Jika budaya kita masih buruk dan sikap yang tidak pernah berubah maka para lulusan ini hanya akan menjadi beban negara sebab mereka hanya akan menambah jumlah pengangguran di Indonesia.

Ditambah lagi mereka hanya akan memperoleh ijazah, ilmu yang mereka dapat dari pendidikan hanya akan bertahan paling lama satu bulan, itu saja karena untuk ikut tes SBMPTN atau seleksi MANDIRI selebihnya Nol besar.

Sistem pendidikan di Indonesia masih hitam di atas putih, jadi hanya angka mereka yang di perhitungkan padahal mereka tidak memiliki kemampuan apa apa. Yang lebih menyedihkan adalah para siswa SMK yang sudah mengambil program kejuruannya selama 3 tahun tapi hanya berapa persen saja mereka bisa menyerap ilmu kejuruan mereka.

Lalu kemana arah dan tujuan hidup mereka?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline