Lihat ke Halaman Asli

Ragu Theodolfi

TERVERIFIKASI

Penikmat seni, pencinta keindahan

Sejukkan Hati Saat Kemarau Panjang

Diperbarui: 5 September 2021   17:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi memaafkan (sumber: Pixabay)

Sepanjang hidupmu, akan selalu ada orang yang membuatmu marah, tidak menghormatimu dan memperlakukanmu dengan  buruk. Biarlah Tuhan  yang berurusan dengan hal-hal yang mereka lakukan, karena kebencian di dalam hatimu akan menghabiskanmu juga. – Will Smith

Kemarau panjang kerap menyisakan beragam kisah. Panen yang gagal, kebakaran hutan, kematian satwa yang perlu dilindungi, minimnya persediaan air bersih adalah dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan alam. 

Bagi manusia, datangnya kemarau yang kadang lebih awal, tentu membawa dampak bagi perkembangan psikologisnya. Sulitnya akses terhadap air bersih, kesulitan ekonomi yang dialami, suasana yang memang sudah panas karena kemarau menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah tersulut emosinya.

Ibarat rumput yang telah kering, sedikit saja disulut dengan korek api, pasti akan terbakar. Terbakar amarah. Tak urung, kata-kata kasar, cacian yang tidak mengenakkan terlontar begitu saja tanpa kendali. 

Ketika kita sedang dihadapkan dengan amarah seseorang, kadang kita merasa terpancing untuk ikut marah. Apalagi bila kata-kata yang terdengar oleh kuping seperti peluru yang menembus jantung kalbu. Mengoyak ego. Seperti paku yang ditancapkan dengan sangat kuat, akan meninggalkan bekas yang dalam. Kata-kata menyakitkan juga sudah pasti meninggalkan luka yang menganga di dalam hati.  

Bila kita berada pada posisi seseorang yang menjadi korban kemarahan, keinginan membalas dengan kata-kata yang-kalau perlu- lebih menyakitkan, tentulah ada. Toh kita juga manusia yang memiliki batas kesabaran, bukan? Tapi eitss, tunggu dulu.  Bila kita tidak suka diperlakukan demikian, silakan berbicara, namun pastikan kalau kita tetap berada pada koridor kontrol yang cukup baik pada setiap kata yang diucapkan.

Namun, bila kita termasuk tipe orang dengan kontrol diri yang kurang baik saat sedang marah, cobalah mundur sejenak. Tarik napas yang dalam. Minum air putih bila perlu. Apabila situasi tidak dapat dikendalikan, segera tinggalkan tempat atau orang yang  membuatmu tidak nyaman. Tahan keinginan melontarkan kata-kata atau prilaku yang nantinya disesali. 

Apa yang dilakukan  di atas, sifatnya sementara. Istilahnya, hanya pencegahan. Supaya tidak berlarut-larut. Supaya tidak berkembang menjadi perang yang lebih menyakitkan. Harus ada upaya untuk mengobati agar hati tidak terluka. Agar tidak ada dendam yang tersisa dan menjadi akar kebencian. Belajarlah untuk memaafkan. 

Orang yang lemah tidak pernah bisa memaafkan, hanya mereka yang kuatlah yang dapat melakukannya." (Mahatma Gandhi)

Memaafkan seseorang ketika hati kita terluka tidak semudah membalikkan telapak tangan. Memaafkan adalah proses. Memaafkan butuh waktu. Ketika kita dalam proses memaafkan, tanpa disadari, diri kita sendiri sebenarnya sedang belajar untuk menjadi lebih kuat. Mejadi orang yang memiliki hati yang besar.  Menjadikan kita lebih sabar dan memiliki sikap mengalah. 

Berdoa bagi mereka yang menyakiti. Saat kita mendoakan mereka yang menyakiti kita, sebenarnya kita pun sedang mencoba menyembuhkan diri sendiri dari rasa sakit itu. Kita sedang berusaha memperbaiki diri kita sendiri. Menangis saat kita berbicara dengan Tuhan akan membersihkan jiwa kita. Percayalah, setelah kita berdoa, hati kita pun menjadi lebih lega dan merasa lebih baik.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline