Lihat ke Halaman Asli

Marjono Eswe

Tukang Ketik Biasa

Jurus Tandur Hilirisasi Produk Desa

Diperbarui: 12 Juni 2020   19:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi warga di desa. (foto: KOMPAS/ANASTASIA JOICE)

Sampai kapan desa tak lagi disebut sebagai penyokong terbesar kemiskinan negeri ini dan bagaimana solusinya. Pertanyaan itu biasa muncul dalam seminar, workshop, FGD, dll.

Desa kita sarat potensi SDA, tapi produk desa tersebut lebih banyak dijual dalam bentuk mentah, sehingga hasil yang didapat pun jauh lebih kecil ketimbang produk lain yang sudah menperoleh sentuhan pengolahan lanjut.

Desa-desa penghasil sayuran di lereng Merbabu, Magelang ketika produk desanya, berupa sayur-mayur hanya dijual langsung ke pengepul, dipastikan harganya rendah.

"Hilirisasi itu seksi sebagai salah satu kunci pembangunan desa. Industri-industri skala kecil dengan prosesing di bangun di desa. Nanti hasil ini baru dikirim ke kota."

 Sentra padi Delanggu dengan ikon berasnya,  hamparan desa penghasil buah nanas segar di Belik Pemalang, jika mereka berhenti hanya pada bahan baku, memproduksi beras, buah-buahan saja.    Pada spot inilah, nilai tambah nihil. Kecil sekali, sehingga sulit untuk mendongkrak kesejahteraan pelaku ekonomi di desa.

Hal ini tentu akan berbeda keuntungan yang digenggam setelah  diolah, dikemas, punya HKI, atau sekadar di pasok ke mal/minimarket, dll.

Begitu juga, desa sentra kopi di Temanggung maupun Wonosobo yang biasa bergaya hidup mewah saat panen, kini sudaha saatnya tak hanya menjual produk kopi desanya dalam bentuk murni glondongan.

Tapi mesti harus diolah menjadi berbagai komoditas menarik, misalnya dijadikan ikon oleh-oleh bagi pelancong meski packaging sederhana, awet bahkan murah, tapi barangkali punya sesuatu yang mampu mencuri hati pelanggan. Apalagi bisa menembus mall sekelas starbuck.

Apalagi, saat ini lagi booming cafe di mana-mana, tak hanya di kota, desa bahkan di gang-gang sempit bertaburan warung-warung kopi. Di Kota Kecamatan bahkan desa hingga kampung, di tengah sawah pun terbit coffe dengan konsep alam, pertanian dan taman.

Pengolahan produk bahan mentah menjadi bahan olahan atau siap konsumsi oleh masyarakat desa menjamin keuntungan berlipat dan membuat produk desa naik kelas.

Itulah hilirisasi produk desa. Melalui hilirisasi ini, barangkali desa tak semata hanya bergantung pada dana desa, tapi malah sebaliknya bisa membuka lapangan usaha dan atau kerja baru bagi masyarakat karena tak sedikit menyerap tenaga kerja tanpa butuh skill tinggi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline