Lihat ke Halaman Asli

Supartono JW

Pengamat

Arus Balik, Kembali ke Jakarta

Diperbarui: 10 Juni 2019   08:52

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: Kompas.com

Mengapa saat musim mudik lancar dan kini memasuki musim balik, kisah kemacetan kembali menggema?


Masih ingat lagu "Kembali ke Jakarta?" Rasanya musim balik ini sangat pas bila di kaitkan dengan lagu tersebut.

Semisal saya ambil bagian reff lagu yang liriknya berbunyi "ke Jakarta aku kan kembali walaupun apa yang kan terjadi", lalu saya ambil salah satu alternatif maknanya menjadi tidak peduli apa pun yang akan terjadi, yang penting kembali ke Jakarta dulu, masalah lain yang akan timbul urusan belakangan.

Bila diartikan seperti itu, dan disesuikan dengan liriknya, maka bisa jadi kisah itu terjadi pada seseorang yang telah mengalami urbanisasi dari desa ke Jakarta, dan memaksakan diri harus pulang ke Jakarta lagi demi mencari nafkah.

Coba ditelusuri lebih jauh, ternyata lagu Kembali ke Jakarta diciptkan oleh grup Koes Plus pada tahun 1969 dan muncul pertama kali dalam Album Dheg Dheg Plas.

Selanjutnya bila dikaitkan dengan sejarah tradisi mudik di Indonesia yang dimulai sekitar tahun 1970-an, meski jauh sebelumnya juga telah terjadi di zaman Kerajaan Majapahit, maka bisa jadi Koes Plus menciptakan lagu Kembali ke Jakarta adalah sebagai bagian dari cara menyambut musim balik setelah sebelumnya terjadi musim mudik.

Kini catatan sejarah musim mudik dan balik serta lagu Kembali ke Jakarta.ternyata telah melalui perjalanan panjang. Sudah lima puluh tahun.

Sepanjang sejarah musim mudik dan balik, setiap tahun kisahnya selalu sama, kemacetan.

Peringatan dari Koes Plus

Namun, pernahkah kita sadari bahwa Koes Plus telah memberikan peringatan bahwa, para urban yang telah mncicipi kerasnya kehidupan metropolitan Jakarta, tetap tak pernah menyurutkan langkah untuk terus kembali ke Jakarta meski telah gagal. Lalu bersamaan dengan musim balik, maka para urban justru membawa sanak saudara dan handai taulan turut serta ke Jakarta.

Pokoknya ke  Jakarta, bagaiamana dan di mana tinggalnya urusan belakangan, lalu pekerjaannya nanti apa, juga urusan belakang.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline