Lihat ke Halaman Asli

Sri Subekti Astadi

ibu rumah tangga, senang nulis, baca, dan fiksi

Mudik Itu Mahal Diongkos Murah Dirasa

Diperbarui: 2 Juni 2019   11:01

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

suasana mudik di Bandara A. Yani Semarang 1-6-2019

Lebaran tinggal menghitung hari, banyak kantor dan sekolah yang sudah meliburkan karyawan dan murid-muridnya. Bagi yang sudah merencanakan untuk mudik, sebagian besar sudah  memulai perjalanannya. 

Biar bisa lebih cepat sampai di kampung halaman dan bertemu dengan orang tua dan sanak saudara. Agar lebih lama menikmati suasana kampung halaman, dan mengenang masa lalu.

Banyak orang berpikiran mudik H-3, H-2  adalah saat tepat, untuk tahun ini, hari sabtu dan minggu tanggal 1-2 Juni 2019 menjadi puncak arus mudik. Kondisi jalan lumayan ramai, padat arus lalu-lintas. 

Demikian juga dengan terminal, stasiun, dan bandara semuanya ramai sehingga perlu diturunkan petugas gabungan untuk membantu mengamankan jalannya arus mudik.


Kemarin sore saya menjemput keponakan yang mudik dari Batam ke Kudus, perjalanan dengan pesawat udara ditempuh hampir dalam waktu 5 jam, karena transit dulu  Soetta  Jakarta sekitar 2 jam untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke  bandara A. Yani Semarang.

Sewaktu menjemput di bandara A.Yani Semarang suasana bandara ramai tapi tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Penasaran juga nih, kenapa bisa begitu !  Bukannya saat puncak arus mudik begini biasanya bandara ramai sekali, didatangi pemudik yang berangkat maupun yang datang.

Mungkin karena pengaruh harga tiket pesawat yang naik berlipat-lipat dari tahun sebelumnya. Seperti yang dirasakan oleh  Ghina dan Galuh, kedua ponakanku yang aku jemput kemarin.

Ghina dan Galuh adalah dua gadis tangguh, yang memberanikan diri melangkahkan kaki jauh dari rumah karena ingin meraih mimpinya. Kondisi orangtua yang tidak mampu menguliahkannya karena keterbatasan biaya membuat    mereka berdua harus bekerja agar bisa mengongkosi dirinya sendiri  dan juga biaya pendidikannya.

Dan hal itu sangat susah dicapai apabila masih tinggal di kampung halaman, jadi mereka harus melangkahkan kaki menuju Pulau Batam. Alhamdulillah kuliah sudah selesai dan pekerjaan yang sudah dilakukan sejak awal sebelum kuliah juga semakin baik. Sehingga mereka berdua bisa mudik bersama lebaran tahun ini. Setelah bertahun-tahun menahan rindu, tidak bisa pulang lebaran demi karir dan studinya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline