Lihat ke Halaman Asli

Sri Rumani

TERVERIFIKASI

Pustakawan

Kenapa di Era Digital Menjadi "Halu"?

Diperbarui: 4 Maret 2020   14:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

SUmber: www.detiknews.com/tim

Di berbagai media cetak dan elektronik diberitakan muncul nama-nama kerajaan baru di Jawa Tengah (Keraton Agung Sejagad) dan Jawa Barat (Sunda Empire). Kalau menyimak acara ILC tgl 21 Januari 2020 bertema:"Siapa Dibalik Raja-Raja Baru?", sejarawan Anhar Gonggong menangkap:"Fenomena  raja-raja fiktif ini tidak lepas dari kenyataan negara agraris. Masih ada orang yang percaya kedatangan Ratu Adil" (www.Tribunnews.com). Padahal kenyataannya saat ini tatanan dunia sudah memasuki era digital dengan segala plus minusnya.

Indonesia sebagai negara Kesatuan yang berbentuk Republik dengan 265 juta penduduk secara otomatis mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap merasakan perubahan yang cepat dalam era digital ini.

Hal ini berkaitan Indonesia sebagai negara berdaulat yang menjadi anggota masyarakat dunia. Tidak bisa menghindari ataupun menekan datangnya era digital.

Masalahnya, Indonesia itu sebagai negara agraris tanpa merasakan sebagai negara industri, tetapi  langsung masuk era digital. Padahal di era digital terjadi perubahan cepat bahkan sampai mencerabut akarnya, sehingga berganti bentuk. Perubahan ini terjadi di berbagai sektor kehidupan.

Akibatnya, orang yang belum siap berubah dengan cepat yang ditandai dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, merasa kaget, "gagap", tidak nyaman dan tidak mapan. Semua yang awalnya dilakukan secara manual, berganti mesin, yang dampaknya sangat dirasakan dalam kehidupan dan tatanan sosial, ekonomi, politik, sejarah, budaya bahkan pertahanan dan keamanan.

Perubahan yang sangat cepat ini, dirasakan oleh mereka para generasi "baby boomer" (lahir antara 1947 -- 1964). Sementara generasi X (1965 -- 1980), Y (1981 -- 1994), Z (1995 -- 2010), dan Alpha (2011 -- 2024), karena mengikuti proses perubahan sehingga tidak mempunyai dampak yang siginifikan. Apalagi bagi generasi Y, Z, dan Alpha yang sejak lahir sudah merasakan dan menikmati perubahan dalam kehidupannya.

Mereka yang kaget, tidak nyaman, tidak mapan dan pekerjaannya telah hilang, terjadilah tekanan, himpitan pikiran antara realita dan impian tidak sinkron.

Bagi yang siap dan kuat menghadapi tatanan baru berusaha menyesuaikan walau harus berbesar jiwa untuk bertanya kepada yang lebih paham, tidak masalah usianya lebih muda. Inilah yang disebut :"Kebo nusu gudel" (Kerbau menyusu anak kerbau), artinya dalam belajar seorang yang lebih tua harus berguru kepada orang yang lebih muda, bahkan anak kecil yang mempunyai ilmunya. Untuk mencari ilmu tidak perlu malu apalagi "gengsi", karena belajar itu seumur hidup, tidak dibatasi usia.

Bagi yang tidak siap dan gengsi belajar lagi,  menerima, pasrah saja hidupnya tergencet, tertekan oleh perubahan zaman. Pasti akan ketinggalan dengan kehidupan yang serba cepat, praktis, dinamis, efisien dan efektif. Ada lagi yang menolak perubahan, karena bila mengikuti tidak mempunyai pengetahuan dan kompetensi yang bisa diandalkan, padahal kebutuhan hidup primer tetap harus dipenuhi.

Dalam kondisi tekanan kehidupan yang semakin berat tanpa diimbangi nilai keimanan kuat, pengetahuan luas, inilah mudah muncul halusinasi. Makna halusinasi adalah pengalaman indra tanpa adanya perangsang pada alat indra yang bersangkutan, misal mendengar suara tanpa ada sumber suara tersebut (KBBI).

Kata halusinasi menjadi bahasa gaul menjadi "halu", seseorang yang banyak menghayal sesuatu tetapi untuk mewujudkannya sangat sulit karena keterbatasan ekonomi, informasi, pendidikan, agama, jejaring sosial.  

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline