Lihat ke Halaman Asli

Sopian Purba

Selama punya semangat hidup semua akan berakhir indah

Cerita di Balik Perangkap Hewan

Diperbarui: 6 Mei 2022   04:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Membawa hasil buruan. Sumber gambar : www.liputan6.com

Berburu hewan liar merupakan salah satu mata pencaharian di desa kami tinggal, yakni Desa Purba Bersatu Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan Sumatera Utara. Hewan liar yang dimaksud tentu saja bukan yang langka dan yang dilindungi.

Yang paling umum adalah babi hutan(maaf bagi saudara Muslim). Selain sebagai santapan, babi hutan dianggap sebagai hama karena seringkali mengganggu tanaman kami. Sehingga sekali babi hutan tertangkap, manfaatnya double.

Berburu babi hutan sering dilakukan di masa-masa senggang dalam  pertanian misalnya seperti saat ini bulan April. Sebab kebiasaan di desa kami menanam padi (sebagai pertanian utama)  dilakukan bulan februari dan panen bulan Juni selanjutnya kembali mengolah sawah bulan Juli dan menanam bulan Agustus demikian seterusnya. Maka bulan Maret sampai mei, dan bulan September sampai November merupakan waktu yang agak senggang bagi para petani di desa kami.

Tentang berburu babi hutan, ada satu orang di desa kami sebut saja namanya Nainggolan, yang tidak suka memberi babi hutan secara langsung apalagi secara berkelompok. Dia lebih suka memburu babi hutan dengan cara memasang perangkap. Selain tidak membuang banyak waktu, memasang perangkap dianggap lebih efektif menangkap babi hutan.

Jadi, Nainggolan biasanya memasang perangkap di suatu tempat yang tidak jauh dari lahan/kebunnya. Maka setiap pagi sebelum memulai aktivitasnya di ladang, dia selalu memantau perangkap termasuk memperbaiki perangkapnya apabila rusak dan mengganti umpannya apabila sudah rusak. Biasanya umpannya umbi-umbian.

Memang Nainggolan termasuk sering berhasil menangkap babi hutan, biasanya dalam satu bulan bisa dua kali atau tiga kali. Untuk saat ini dagingnya di jual seharga Rp 45.000,- per kilogramnya. Maka jika saja berat babi hutan itu 20 kg Nainggolan sudah mengantongi Rp 900.000,-. 

Nah, pekerjaan membuat perangkap binatang itu, bukanlah pekerjaan utama, melainkan sekedar tambahan. Untuk ukuran desa, itu sudah lumayan. 

Yang menarik bagi saya adalah banyak warga dan tetangga yang berkomentar seperti ini : "wah Nainggolan itu beruntung sekali yah, nasibnya bagus, sering sekali dia mendapat babi hutan". Wajar memang, namanya juga warga desa, ibu-ibu suka ngerumpi. Hampir semua tetangga punya komntar yang sama. Saya melihat komentar itu ada yang tulus memuji, ada juga yang kagum, dan tidak sedikit juga yang iri. 

Bagi saya sendiri, saya melihatnya sebagai buah dari kerja keras bukan keberuntungan apalagi nasib. Pasalnya setiap hari saya melihat dia rutin setiap pagi pergi ke ladang mengecek perangkap sekaligus melakukan kegiatan di ladangnya. Jadi wajar saja, dalam 30 hari sebulan, bisa dua atau tiga kali perangkapnya berhasil.

Masalahnya orang-orang di desa kami tidak melihat konsistensi dan ketekunan itu, mereka justru hanya melihat hasilnya, dan paling umum menghitung uangnya. Inilah yang salah dari warga desa kami, hanya melihat keberhasilan 2 atau 3 kali, tetapi tidak melihat kegagalan perangkap nya yang bisa sampai 26 atau 27 hari tidak mendapatkan apa-apa. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline