Lihat ke Halaman Asli

Zulfikar Akbar

TERVERIFIKASI

Praktisi Media

Dari Kertas Koran ke Panggung Kompasianival

Diperbarui: 31 Oktober 2017   12:59

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bukan sekadar uang, Kompasiana juga membantu memperluas pergaulan, selain juga memperluas cakrawala pemikiran - Dok: Pribadi

Koran memang menjadi yang pertama bikin saya jatuh cinta, di luar buku. Itu juga karena sejak SD--sekitar Kelas III--sudah disodori koran oleh Bapak. Anak SD bau kencur itu lantas bergulat dengan berita-berita politik, dan berdiskusi dengan Bapak dan teman-teman SD-nya.

Anak-anak SD bicara politik? Iya, karena teman-teman sekelas yang biasa menjadi "musuh" di tiga besar peringkat di kelas tak hanya berlomba berburu peringkat, tapi sama-sama ingin menjadi yang paling tahu urusan politik.

Jadilah anak-anak SD itu pun mengupas soal Perang Dunia Pertama, Perang Dunia Kedua, konflik Timur Tengah, masalah kelaparan di Somalia. Nggilani-nya lagi, anak-anak SD tadi itu, saya dan teman-teman terkadang "kurang hajar", menyela obrolan orang dewasa ketika dirasa ada data yang keliru atau runutan kisah perang dipandang diobrolkan secara tidak tepat seperti tertulis.

Sekarang, anak-anak "kurang hajar" itu tak semua berkecimpung di media. Yang satu sudah menjadi Sekretaris Desa di kampung asal saya, Jeuram, Aceh. Satunya lagi menjadi salah satu pejabat di lembaga pemerintah, di Kabupaten Nagan Raya, Aceh.

Saya saja yang akhirnya tetap menggumuli dunia media. Awalnya cuma karena motivasi bahwa para tokoh bangsa di negeri ini di masa lalu hampir tak ada yang lepas dari media, jadilah media kian digeluti.

Sejak awal kuliah hanya mengincar koran-koran lokal. Gagal mendapat tempat di kolom Opini, mendapatkan tempat di kolom Surat Pembaca saja sudah terasa sebagai prestasi.

Di sela-sela itu, berburu berbagai seminar dan pelatihan jurnalistik, menjadi salah satu yang getol saya lakukan. Cuma karena teringat pesan, "Ilmu itu tidak datang sendiri, melainkan harus diburu."

Sampai kemudian berbekal sertifikat demi sertifikat, saya bergabung dengan beberapa media lokal di Aceh, yang sering bernapas pendek. Ada juga, "Koran Tempo" istilahnya. Maksudnya, tempo-tempo terbit, tempo-tempo tidak.

Tapi berkarier di media lokal itu saja sudah terasa sebagai sebuah gengsi tersendiri. Bagaimana tidak, di daerah tidaklah banyak yang berani melirik profesi ini. Banyak yang akrab dengan koran, tapi saya bahkan tak pernah mendengar ada teman sekolah dari SD sampai kuliah yang pernah mengaku ingin jadi wartawan tiap kali ditanyakan apa cita-cita mereka.

Belakangan saya maklumi, memang bekerja di media lokal itu risiko miskin jauh lebih besar. Bagaimana tidak, jika berharap pada gaji, maka gaji yang ada--saat saya di sana--hanya dalam hitungan sekian ratus ribu rupiah. Jangankan mimpi untuk membangun istana tanpa menunggu warisan orang tua, mimpi untuk kawin pun terasa terlalu muluk.

Bahkan jodoh pun datang karena ketertarikannya pada tulisan bekas perjaka lapuk - Gbr: Pribadi

Di tengah situasi itulah saya mengenal Kompasiana. Tepatnya tahun 2009, kala "media keroyokan" ini masih "bocah". Saya pun bertingkah selayaknya bocah, jika ada yang mengkritik apa yang saya tulis maka seketika itu juga menghentakkan kaki, guling-guling, lalu menangis meraung-raung di tanah! (Anda coba bayangkan saja dulu aksi bocah ini).
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline