Lihat ke Halaman Asli

SNF FEBUI

Badan Semi Otonom di FEB UI

Gifted Kid Burnout: Risiko Pemberian Label Gifted Terhadap Anak

Diperbarui: 21 November 2021   14:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokpri

Istilah gifted kid burnout pada mulanya muncul sebagai tren dari aplikasi TikTok. Tren ini menggambarkan kegelisahan netizen yang sewaktu kecil dijuluki sebagai “gifted kid”. Tren gifted kid burnout menampilkan video berisi kecemasan berlebihan, depresi, penundaan pekerjaan, dan perasaan tidak puas karena merasa kurang berprestasi. Fenomena gifted kid burnout kerap terjadi belakangan ini sebab tekanan kompetisi akademik yang tinggi. 

Tak hanya kompetisi akademik yang tinggi, gifted kid burnout juga terjadi ketika seorang anak memiliki segudang prestasi. Ketika anak memiliki prestasi, orang-orang di sekitarnya akan menuntut ekspektasi yang lebih. Hal ini membuat sang anak merasa terbebani karena ekspektasi yang ditanamkan secara tidak langsung kepada dirinya. Tekanan inilah yang berujung kepada burnout sehingga tidak jarang anak-anak yang dilabeli sebagai gifted kid mengasosiasikan dan menilai dirinya hanya sebatas dengan prestasi yang mereka miliki.

Apa itu Gifted Kid Burnout?

Gifted Children atau Gifted kid adalah anak yang mempunyai kemampuan melebihi rata-rata dari anak seusianya. Sebagian besar negara mendefinisikan gifted child sebagai seorang anak yang memiliki intelligence quotient (IQ) lebih atau sama dengan 130. Namun, sekarang banyak instansi yang menggunakan berbagai ukuran untuk mengategorikan anak sebagai gifted child, mulai dari kemampuan verbal, matematika, spasial-visual, musik, sampai kemampuan interpersonal  [1].

Psikolog Industri Organisasi, Kiky Dwi Saraswati, menjelaskan bahwa burnout merupakan kondisi psikologis yang terjadi ketika penderitanya terpapar stres berkepanjangan lantaran pola kerja yang buruk dan tidak sehat [2]. Burnout lazim diukur dalam konteks pekerjaan karena dampaknya yang dianggap sangat merugikan terhadap kinerja karyawan. Meskipun demikian, burnout juga sangat mungkin terjadi dalam konteks sekolah dan pendidikan formal lainnya. Hal ini karena terkadang para pelajar menerima beban akademik dan tekanan yang cukup berat sebagaimana tekanan pekerjaan yang dapat menjadi stressor bagi para karyawan atau pelaku dunia kerja lainnya. Hal ini dibuktikan oleh hasil penelitian yang menemukan fenomena burnout tersebut di sekolah menengah (Salmela-Aro, Kiuru, & Nurmi (2008) dan Salmela-Aro, Kiuru, Pietikïnen, & Jokela (2008).. Demikian pula, terdapat penelitian lainnya yang menemukan fenomena burnout dalam setting pendidikan tinggi [3] (Rahman, Simon, & Multisari (2020) dan Shankland et al. (2019)).

Gifted kid burnout merupakan istilah yang terlahir dari internet, lebih spesifiknya dibuat oleh anak muda. Gifted kid burnout mengacu pada stres dan kecemasan berlebih yang dialami oleh seseorang yang dulunya dijuluki dan diberi label sebagai gifted kid. Apa yang mereka alami ini terjadi karena prestasi akademis mereka di masa lalu yang membebani mereka. Jadi, gifted kid burnout merupakan fenomena dimana anak yang dahulunya diberi label gifted kid mulai merasa lelah dan kehilangan motivasi. 

Haus akan Validasi Akademik?

Validasi adalah sebuah proses pembuktian yang dilakukan oleh agen, baik itu di dalam maupun di luar institusi, yang mendorong pengembangan akademik dan interpersonal (Rendón, 1994, hlm. 46). Validasi akademik dapat terjadi di berbagai tempat, seperti di lingkungan keluarga, kelas, klub organisasi, atau di komunitas.

Tidak jarang, anak yang diberi label sebagai gifted kid, haus akan validasi akademik. Hal ini diakibatkan karena mereka menilai harga diri mereka hanya sebatas dengan suatu penghargaan atau prestasi. Maka, bisa jadi mereka akan merasa dirinya kurang berharga hanya karena melakukan kesalahan kecil, seperti nilai ulangan yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Pujian-pujian dan ekspektasi yang dibebankan kepada anak akan membuat anak menilai dirinya  berdasarkan pujian tersebut. Oleh karena itu, ketika terjadi suatu masalah, seperti nilai ulangan yang turun, anak akan merasa cemas karena sang anak menilai dirinya hanya sebesar angka yang tertera pada kertas ujian. 

Sesudah ketika seorang anak mulai merasa bahwa dirinya kurang berharga secara terus menerus, hal ini kelak akan menyulut burnout. Ironisnya burnout bisa berdampak pada penurunan prestasi. Hal ini didasari dari penelitian yang dilakukan oleh Duru, Duru, & Balkis (2014) dan Uludag & Yaratan (2013) yang menunjukkan bahwa burnout berhubungan secara negatif dengan prestasi akademik. Dengan kata lain, semakin tinggi burnout seorang pelajar, semakin rendah pula prestasi yang dicapainya [4].

Pemberian Label Gifted Kid dan Risikonya

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline