Lihat ke Halaman Asli

Nabila

Freelance writer

Perubahan Iklim dalam Pandangan Ekofeminisme

Diperbarui: 18 Agustus 2022   08:22

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

PEMBAHASAN:

Perubahan iklim merupakan sebuah fenomena dimana terjadi pergantian cuaca yang rata-rata menjadi lebih hangat, lebih basah, atau dapat lebih kering dari biasanya. 

Perubahan iklim telah menjadi tantangan global yang membebani seluruh umat manusia, tak terkecuali perempuan yang juga menjadi korban. 

Ekofeminisme lahir sebagai bentuk teori yang menyoroti tentang ketimpangan alam dan perempuan dengan patriarki. Francoise D’Eaubonne dalam buku Le Feminisme ou la Mort (1974) menggabungkan penindasan dalam aspek perempuan, people of color, anak-anak, dan orang miskin dengan penindasan alam. 

Francoise berpendapat bahwa eksploitasi dan penindasan menyebabkan kerusakan pada lingkungan dan hal tersebut berdampak pula pada perempuan. Seperti pada tragedi banjir dan angin topan di Bangladesh pada tahun 1991, 90% korban merupakan perempuan (Begum, 1993-1994). 

Kematian banyak perempuan—ibu, mengakibatkan angka kematian pada bayi meningkat, pernikahan dini anak perempuan serta perdagangan perempuan untuk dijadikan objek kekerasan seksual pun ikut meningkat. 

Bahkan selama Badai Katrina di AS, perempuan Afrika-Amerika—populasi termiskin di bagian negara itu—menghadapi rintangan terbesar untuk bertahan hidup (Aguilar, 2007).  

Masih terdapat ketimpangan peran dalam menemukan solusi bagi alam terkhusus pada perubahan iklim yang kian menjadi kekhawatiran dunia. Revolusi industri, kaum kapitalis, patriarki, adalah tiga komponen saling bersinggungan; merusak alam juga secara tidak langsung merugikan perempuan. 

Perempuan di sebagian besar masyarakat miskin, hanya sebagai sosok pendukung yang memainkan peran ganda sebagai penyedia bahan pangan; bekerja di sektor pertanian atau sektor informal lainnya dan pengasuh. 

Peran dan tanggung jawab yang dibangun secara sosial tersebut menempatkan perempuan di posisi yang tidak menguntungkan dan mereka pun tidak dapat ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai solusi dari perubahan iklim (Oxfam, 2008). 

Sudah waktunya perempuan ikut dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Dan tatkala perempuan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, mereka dapat membantu dalam merancang solusi efektif bagi perubahan iklim. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline