Lihat ke Halaman Asli

Hasna A Fadhilah

Tim rebahan

Belajar Toleran dari Kasepuhan Ciptagelar

Diperbarui: 17 November 2018   14:05

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokpri

"Mbak betulan mau ke Ciptagelar?" tanya seorang kolega senior yang seakan tidak percaya ketika saya mengutarakan niat perjalanan saya.

"Iya, Bu. Sudah saya kontak perwakilan dari adatnya," ujar saya yakin.

"Ya sudah. Pokoknya hati-hati saja, medannya menantang mbak. Siap-siap ya!"

Nada peringatan dari wanita paruh baya tersebut saya jawab sambil mengangguk-angguk kepala. Memang seberapa berat sih medannya? Tanya saya dalam hati. Toh, saya pernah beberapa kali naik gunung. Dan Halimun sejatinya tidak akan jauh berbeda, pikir saya enteng. Saking santainya, menjelang traveling saya kesana, saya bahkan tidak membawa jaket tebal barang satu pun. Betul-betul nekat.

Perjalanan dari terminal Sukabumi ke Kasepuhan Ciptagelar sebenarnya hanya memakan waktu sekitar tiga jam tergantung kondisi jalan dengan ojek motor, namun ketika saya sampai disana hujan gerimis sempat menyapa sejenak, dan hal ini membuat pengemudi ojek yang saya tumpangi menjadi super hati-hati. 

Selain itu, akses jalan yang kami lalui betul-betul terjal, terdiri dari batu-batu alam besar dan tanah liat coklat basah karena musim penghujan yang mulai datang, memang agak menyulitkan motor untuk bergerak cepat. Dan seperti yang sudah diwanti-wanti, kondisi jalan menanjak kesana membuat saya tak berhenti berdzikir mengingat kematinan, bagaimana tidak kondisi jalan yang tak mulus memaksa motor berada hanya satu dua senti dari bibir jurang!

Sore menjelang Ashar, tibalah saya di kampung Ciptagelar. Oh ya, masyarakat adat disini sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Suku Baduy, bedanya masyarakat adat Ciptagelar jauh lebih terbuka terhadap perkembangan teknologi dan media sosial. 

Hal ini dapat dilihat dari adanya fasilitas internet dan TV di beberapa rumah penduduk. Bahkan pihak Kasepuhan Ciptagelar sudah memiliki website dan channel TV pribadi untuk 'menggelarkan' atau mempromosikan nilai-nilai dan budaya adat mereka.

dokpri

Menariknya, keterbukaan mereka juga merambah pada aspek pelayanan tamu. Ketika berkunjung kesana, saya betul-betul dijamu layaknya saudara sendiri. Bukan hanya diajak berdiskusi di depan perapian hangat dengan segelas kopi dan jajanan ringan, tapi juga disediakan kamar untuk menginap selama di sana, gratis! Selain suasana kekeluargaan yang dihadirkan oleh pihak kasepuhan, hal yang membuat saya iri adalah tata krama masyarakat disini. Dengan tingkat pendapatan yang tidak setinggi masyarakat kota, justru tingkat kriminalitas di daerah ini malah NOL persen. Kaget? Saya juga!

Ketika saya tanya apa kunci masyarakat disini bisa hidup begitu nyaman dan damai? Meski jika dilihat secara kasat mata, hidup mereka sangatlah sederhana. Perlu dicatat, padi yang mereka tanam dilarang untuk dijual sehingga mereka hanya mengandalkan hasil berkebun, beternak, berdagang, dan mata pencaharian lain. 

Juru bicara kasepuhan menjawab enteng, mereka percaya apa yang mereka lakukan itulah yang akan mereka tuai. Lebih lanjut, laki-laki yang pernah tinggal di Kanada dan Amerika tersebut, memberikan contoh aneh bin nyata dari lumbung padi mereka. Disini, warga percaya bahwa padi adalah sumber kehidupan karena makanan pokok mereka berasal dari padi. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline