Lihat ke Halaman Asli

S Eleftheria

TERVERIFIKASI

Penikmat Literasi

Joker dan Moralitas Sebuah Film, Haruskah Ada?

Diperbarui: 16 Januari 2022   05:30

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi tokoh Joker| image by warner bros pictures via IMDB

Apa yang terlintas di pikiran kita ketika menonton sebuah film? Apakah kita berharap bahwa selain menyuguhkan hiburan, film juga harus memberikan sebuah pesan lebih—moralitas? Pertanyaan itu mungkin tidak begitu penting bagi sebagian orang, tetapi bisa jadi penting bagi sebagian lainnya. 

Artinya, ada yang berpendapat bahwa film hanya merupakan sebuah hiburan penghilang ketegangan hidup, tidak lebih, dan ada juga yang berpendapat bahwa film merupakan media yang harus bisa memberikan nilai edukasi bagi orang-orang yang menyaksikannya. 

Nah, tidak ada yang salah dengan perbedaan pendapat tersebut karena berdasarkan fungsinya, film pun  memiliki beberapa peranan, yaitu menyampaikan pesan dalam bentuk informasi, edukasi, dan hiburan, melalui media komunikasi.

Terkait moralitas, kita ambil satu film dari sekian banyak film yang beredar, yang mungkin bisa mewakili sisi penilaian tersebut, yaitu “Joker”. Film yang rilis di Indonesia 2 Oktober 2019 dari hasil besutan sutradara Todd Phillips itu menyajikan tema mentall illness yang tidak biasa, dengan banyaknya percakapan menarik di dalamnya. 

Jika pernah menonton film tersebut, kita akan menemukan banyak kalimat, baik secara langsung diucapkan oleh tokoh Joker maupun secara tidak langsung, yang belakangan dijadikan semacam quotes dengan presepsi yang bermacam-macam. Salah satu kalimat populernya adalah : “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”.

Joker menceritakan kisah seorang pria yang mengalami gangguan mental (skizofrenia), Arthur Fleck, yang memutuskan untuk membunuh semua orang karena membuatnya marah—hal tersebut secara tidak sengaja juga menyebabkan timbul pemberontakan kekerasan terhadap orang kaya. 

Film tersebut memulai debutnya di Festival Film Venesia lebih dari sebulan sebelum dirilis secara luas. Itu berarti bahwa ada satu bulan penuh bahwa satu-satunya orang yang telah melihat film tersebut adalah kritikus film—dan reaksi awal mereka memicu kontroversi secara online.

Intinya, beberapa kritikus mengatakan film itu memiliki ide-ide buruk dan itu akan mengilhami tindakan kekerasan yang nyata. Logikanya adalah kita tahu pada saat orang-orang seperti Arthur melakukan tindakan kekerasan nyata seperti itu—setidaknya film yang mungkin ditafsirkan demikian oleh sebagian penonton—apakah ada pertanggungjawaban dari pembuat film yang mengagungkan seorang pembunuh? 

Yang terjadi kemudian, kritik tersebut disambut dengan gelombang komentar yang sama ketika kita mendiskusikan politik atau ide dari media popular online. Komentar yang bermuara kurang lebih seperti ini: Diam! Berhenti mengutip politisasi seni. 

Sebenarnya, apa yang mendasari terjadinya konflik perbedaan pola pikir disebabkan adanya ketidaksepakatan atas pertanyaan: Apakah seni memiliki tanggung jawab sosial? Maka, orang-orang lantas banyak yang beragumen menjawab pertanyaan tentang seni dan moralitas. Untuk menjawab pertanyaan itu dengan benar, kita bisa mengulik gagasan beberapa filsuf terkenal.   

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline