Lihat ke Halaman Asli

KEBERADAAN WARUNG SEBAGAI WAHANA INTERAKSI SOSIAL DAN PEMENUHAN RUANG SOSIAL

Diperbarui: 21 Maret 2016   13:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="COLLECTIE TROPENMUSEUM Huis langs de weg waar eten verkocht wordt TMnr 3728-805 "][/caption]Warung, merupakan bagian keseharian dalam masyarakat kita. Dari mulai kawasan perumahan kalangan menengah ke atas hingga perkampungan penduduk, selalu dengan mudah kita mendapati keberadaan warung baik itu warung yang menjual kebutuhan pokok sehari-hari hingga warung yang menyediakan jasa makanan atau minuman. Dari aspek ekonomi (manajemen, tampilan fisik), warung merupakan bagian dari pasar konvesional selain kios, pedagang kaki lima, pasar loak, toko. Jika ada pasar tradisional tentu ada pasar kontemporer yang meliputi department store, supermarket, hypermarket, e-ritel, vending machine.


Sebelum ada toko-toko modern yang menyediakan berbagai barang kebutuhan sehari-hari bermunculan dan menjamur menghiasi seluruh wajah kota dan desa di masyarakat kita, keberadaan warung telah ada cukup lama untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok sehari-hari masyarakat. Warung adalah warisan historis sebuah masyarakat tradisional yang tetap bertahan hingga kini. Menariknya, keberadaan warung – entah itu pemasok kebutuhan sehari-hari, makanan, minuman – justru yang paling bertahan dari gempuran krisis ekonomi.

 Dalam artikelnya, "Ekonomi Rakyat Menyubsidi Ekonomi Konglomerat", Parni Hardi mengutip pernyataan Prof Sri-Edi Swasono (SES), guru besar ekonomi kerakyatan Universitas Indonesia (UI), pada presentasi Sistem Ekonomi Indonesia, saat forum Gerakan Pemantapan Pancasila, di Jakarta, (18 Agustus 2015) sbb: “Sektor informal, terutama warung-warung pedagang kaki lima (PKL) memberi kehidupan murah (low cost economy and low cost of living) kepada para buruh berupah rendah dari korporasi-korporasi besar, PNS, dan prajurit TNI/Polri bawahan. 

Buktinya, di trotoar, jalan, gang, atau tanah lapang sekitar gedung-gedung pencakar langit yang megah berjubel warung-warung murah yang dipenuhi karyawan bawahan. Tak jarang juga pegawai atasan berdasi (atau dicopot dulu) yang ikut nongkrong di warung-warung PKL. Ada juga yang menyuruh OB (office boy) untuk beli makanan guna dibawa ke lantai atas. “Ini trickle up effect (efek air muncrat ke atas). 

Suatu bukti bahwa ekonomi rakyat menyubsidi ekonomi besar di atasnya yang secara strategis mendukung ekonomi nasional. Jadi, apa yang disebut proses trickle down effect kapitalistik itu omong kosong” . Bahkan dalam salah satu artikel dikatakan bahwa dari 10 kategori bisnis yang tidak mendapatkan pengaruh signifikan dari krisis moneter salah satunya adalah warung sembako atau toko kelontong 


Eksistensi warung sebagai bagian dari pasar konvensional kerap harus menghadapi sejumlah masalah baik yang bersifat internal berupa ketersediaan modal maupun masalah eksternal berupa persaingan dengan pasar konvesional yang menyediakan kenyamanan, kelengkapan, mutu berbagai jenis barang yang diperjual belikan.


Kita batasi pembicaraan dan pembahasan kita pada warung yang menjual kebutuhan sehari-hari yang kerap kita jumpai di dekat rumah kita atau di ujung gang beberapa ratus meter dari rumah kita. Secara sosiologis, warung bukan hanya sebuah tempat terjadinya transaksi ekonomi dalam bentuk jual dan beli barang kebutuhan sehari-hari, namun juga sebagai wahana terjadinya interaksi sosial diantara warga masyarakat dan pemenuhan ruang sosial.


Prasyarat sebuah interaksi sosial adalah tatap muka dan komunikasi dan prasyarat itu terpenuhi ketika seseorang berbelanja di sebuah warung. Interaksi sosial yang terjadi di warung bisa bersifat asosiatif (menuju persatuan) maupun disosiatif (perpecahan). Interaksi sosial asosiatif tersebut dapat kita temukan saat kita memperhatikan bahwa di warung, seseorang yang berbelanja tidak selalu langsung pulang ke rumah, khususnya para wanita atau ibu-ibu. Terjadi banyak percakapan di warung mulai yang bersifat gosip, pertukaran informasi hingga menanggapi situasi sosial dan politik serta ekonomi yang khas para wanita atau ibu-ibu. 

Dari perspektif teori fungsional, gosip tidak selalu bermakna negatif melainkan memiliki aspek positip sebagai alat kontrol sosial. Ketika seseorang melakukan penyimpangan sosial, pelanggaran moral, warung menjadi media menyalurkan kritik dan ketidaksukaan masyarakat terhadap perilaku-perilaku yang melanggar nilai dan norma. Terkadang apa yang disampaikan oleh beberapa kelompok masyarakt dapat sampai ke telinga orang yang dipergunjingkan, baik saat dia sedang berbelanja di warung atau mendengar informasi dari mulut ke mulut yang informasi awalnya bisa saja diproduksi di sebuah warung. 

Sementara interaksi sosial disosiatif dapat terjadi manakala seseorang yang sedang bertemu dan berbicara di warung sedang memiliki persoalan pribadi dengan salah satu lawan bicaranya dan mengeluarkan kata-kata atau pernyataan yang menyinggung atau dapat menimbulkan kesalahpahaman hingga berujung pada pertengkaran


Di warung bukan hanya terjadi proses interaksi sosial melainkan pemenuhan ruang sosial. Apa yang dimaksudkan dengan ruang sosial? Ruang sosial adalah sebuah kondisi yang diperlukan oleh individu atau kelompok dalam melakukan proses sosialisasi dan berinteraksi. Pemenuhan ruang sosial merupakan konsekwensi logis bahwa manusia adalah mahluk sosial selain mahluk individual. Sebagai mahluk sosial, manusia memerlukan ruang sosial untuk dirinya bersosialisasi. Pemenuhan ruang sosial bukan hanya dapat disediakan di institusi pendidikan berupa sekolah dan institusi sosial berupa organisasi-organisasi kemasyarakatan melainkan institusi ekonomi berupa pasar konvensional yaitu warung.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline