Lihat ke Halaman Asli

Merintang Rindu (Bagian #2)

Diperbarui: 30 September 2018   06:22

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Keesokan harinya, untuk kali pertama Asyi menjadi siswa berseragam putih biru. Sinar matahari mulai menerobos sela-sela daun sirih nenek Tik yang menjalar pada teralis vertical garden buatan tukang las langganan Ibu. Saat itulah Asyi untuk kali pertama ditantang ibunya; mencari tahu seperti apa sosok ayahnya sendiri.

Beberapa menit sebelum tepat pukul enam di meja makan. Tiba-tiba Ibu bertanya pada Asyi dengan suara yang sangat pelan, "Nak, pernahkan kau bertanya-tanya mengapa ayah tidak ada disekitar kita?; seperti apakah ayah Asyi?; atau pernahkah Asyi memikirkan sesuatu hal yang berbeda dari pertanyaan-pertanyaan yang ibu sampaikan,  sesuatu tentang ayah?"

Asyi tertegun melihat wajah ibu; dekat sekali dengan telinganya.

Sejenak suasana begitu hening.

"Ternyata.......................... ibu cantik sekali." celetuk Asyi; membuat ibu tertawa mengakhiri keheningan.

"Hey, Asyi. Pernahkah ada sesuatu yang berputar-putar di kepalamu tentang ayah?"

Ibu tersenyum.

 "Baiklah, nak. Petualangan hebat akan kita mulai. Ibu tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang ayah. Percayalah bahwa diluar sana masih banyak tempat-tempat misterius yang perlu Asyi jelajahi. Tentu tak akan asyik jika pertualangan itu kita sudahi sampai disini. Asyi dapat mencari tahu siapa ayah Asyi sendiri. Asyi boleh memulainya kapanpun Asyi mau. Ada banyak tempat di rumah ini. Sebagian besar hal menarik tentang ayah tersimpan ditempat-tempat berbeda." Ibu berdiri dan membereskan meja makan.

Sambil meminum susu manisnya Asyi mulai memikirkan banyak hal tentang ayah. Ia sadar bahwa Ibunya memang tak pernah bercerita banyak tentang ayahnya. Selama ini neneknya lah yang sering bercerita tetang apa saja, termasuk sesuatu tentang ayahnya.

Ada sesuatu di tangan kanan ibu. Ibu menyodorkan bungkusan ditangannya ia berkata, "Ini untukmu. Kau dapat gunakan ini untuk mencatat yang menarik perhatianmu. apa saja, termasuk sesuatu yang kau dapatkan tentang ayah." Setelah itu pergi ke ruang kerjanya dan meninggalkan Asyi.

Asyi masih duduk di meja makan, susu sapi murni miliknya belum habis. Ia membuka bungkusan yang diberikan ibunya. Baru menyentuh bagian ujung lipatan tiba-tiba neneknya datang. ia pun mengurungkan niatnya untuk membuka bungkusan itu di meja makan. Asyi segera menghabiskan susu sapi murni miliknya. dan berpamitan neneknya yang sedang merawat sirih.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline