Novel Pilihan

Merintang Rindu (Bagian #2)

30 September 2018   05:31 Diperbarui: 30 September 2018   06:22 474 1 0

Keesokan harinya, untuk kali pertama Asyi menjadi siswa berseragam putih biru. Sinar matahari mulai menerobos sela-sela daun sirih nenek Tik yang menjalar pada teralis vertical garden buatan tukang las langganan Ibu. Saat itulah Asyi untuk kali pertama ditantang ibunya; mencari tahu seperti apa sosok ayahnya sendiri.

Beberapa menit sebelum tepat pukul enam di meja makan. Tiba-tiba Ibu bertanya pada Asyi dengan suara yang sangat pelan, "Nak, pernahkan kau bertanya-tanya mengapa ayah tidak ada disekitar kita?; seperti apakah ayah Asyi?; atau pernahkah Asyi memikirkan sesuatu hal yang berbeda dari pertanyaan-pertanyaan yang ibu sampaikan,  sesuatu tentang ayah?"

Asyi tertegun melihat wajah ibu; dekat sekali dengan telinganya.

Sejenak suasana begitu hening.

"Ternyata.......................... ibu cantik sekali." celetuk Asyi; membuat ibu tertawa mengakhiri keheningan.

"Hey, Asyi. Pernahkah ada sesuatu yang berputar-putar di kepalamu tentang ayah?"

Ibu tersenyum.

 "Baiklah, nak. Petualangan hebat akan kita mulai. Ibu tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang ayah. Percayalah bahwa diluar sana masih banyak tempat-tempat misterius yang perlu Asyi jelajahi. Tentu tak akan asyik jika pertualangan itu kita sudahi sampai disini. Asyi dapat mencari tahu siapa ayah Asyi sendiri. Asyi boleh memulainya kapanpun Asyi mau. Ada banyak tempat di rumah ini. Sebagian besar hal menarik tentang ayah tersimpan ditempat-tempat berbeda." Ibu berdiri dan membereskan meja makan.

Sambil meminum susu manisnya Asyi mulai memikirkan banyak hal tentang ayah. Ia sadar bahwa Ibunya memang tak pernah bercerita banyak tentang ayahnya. Selama ini neneknya lah yang sering bercerita tetang apa saja, termasuk sesuatu tentang ayahnya.

Ada sesuatu di tangan kanan ibu. Ibu menyodorkan bungkusan ditangannya ia berkata, "Ini untukmu. Kau dapat gunakan ini untuk mencatat yang menarik perhatianmu. apa saja, termasuk sesuatu yang kau dapatkan tentang ayah." Setelah itu pergi ke ruang kerjanya dan meninggalkan Asyi.

Asyi masih duduk di meja makan, susu sapi murni miliknya belum habis. Ia membuka bungkusan yang diberikan ibunya. Baru menyentuh bagian ujung lipatan tiba-tiba neneknya datang. ia pun mengurungkan niatnya untuk membuka bungkusan itu di meja makan. Asyi segera menghabiskan susu sapi murni miliknya. dan berpamitan neneknya yang sedang merawat sirih.

Asyi memutuskan untuk membuka bungkusan pemberian ibunya di sekolah barunya. Bungkusan lusuh berwarna coklat dengan benang wol hitam yang dijelujur membentuk huruf A kapital di bagian tengah bungkusan. Bungkusan berisi buku milik ibu yang telah digunakan sampai seperempat lembar dari keseluruhan lembar buku. berisi sketsa-sketsa yang ibu buat. Dan beberapa pen dari banbu yg banyak warna cat di bgian luarnya. Awalnya asyi tak begitu tertarik dengan tantangan dari ibunya. tapi semenjak melihat isi bungkusan pemberian ibunya, Asyi menyukainya.

Saat malam tiba, Asyi memutuskan untuk pergi ke ruang kerja ibu. Melihat ibu yang sedang duduk di depan pianonya sambil melihat langit. Sebenarnya bukan hanya basemen, sejak dulu Asyi juga selalu tertarik pada sudut ruangan di ruang kerja ibu yang atapnya bisa dibuka.

"Sini nak," ucap ibu saat sadar bahwa Asyi berada di ruang kerjanya; sambil memperbaiki posisi duduknya dan menepuk-nepuk bagian bangku disamping kirinya. Asyi mendekat lalu duduk.

" Malam ini indah sekali, nak." sambil menunjuk ke langit.

Tak lama kemudian, Ibu menarik nafas panjang; meninggikan alisnya-membuat-ekspresi-wajah-aneh lalu mulai memainkan pianonya. Sudah lebih dari satu minggu, setiap malam ibu selalu memainkan pianonya. Dalam benaknya Asyi berpikir bahwa hal ini jarang terjadi.

"Bolehkah?"

Asyi mengangguk, segera ia berpindang ke tempat tidur ibu; semakin lama semakin terasa nyaman; sampai tertidur.

***

Siang hari, Asyi nampak sangat sibuk; ia mencoba mencari di sisi basemen yang lain; dibalik tumpukan majalah-majalah Pramuka edisi lama yang tingginya hampir menyentuh atap basemen. Asyi melihat majalah itu disatukan dengan tali yang tak diketahui pasti bagian simpul pembuka ikatannya. Sebenarnya Asyi belum pernah membaca semua majalah Pramuka itu. Asyi hanya membaca majalah yang berserakan di dekat pintu basemen.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6