Lihat ke Halaman Asli

Kabut Berdarah di Tapal Batas

Diperbarui: 25 Juni 2015   21:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Tubuh mereka jatuh berdebam, masuk lobang, Ia melihat kabut disekitar tempat eksekusi, berwarna merah darah.
Seketika, kabut tebal di tapal dua Desa, tersingkap. Lamat-lamat terlihat biru langit, bulan mulai terlihat. Binatang malam, suara burung pungguk terdengar bersahutan merobek keheningan malam, mengiring kepergian tiga orang anjing Nica, tumbal kabut kegelapan nafsu duniawi.

.......................................

Ketika memasuki pertengahan Tahun 1946 Kota Purwokerto sekitarnya baru memasuki babak baru kehidupan bermasyarakat, Merdeka. Kemerdekaan lepas dari cengkeraman Tentara Nippon, baru seumuran jagung.

Tapi kini ketenangan kehidupannya terkoyak kembali, seiring suara kentong titir ‘tong..tong..tooong’ membahana saling  bersahutan, dari desa satu ke desa. Diikuti gema panjang dari arah balai Desa Kejawar, kentong kayu keramat bernama Kyai Galih, terbuat dari galih pohon Nangka, menggema panjang "Dung-duung..dung..dung..dung duuung" menggetarkan mendung dilangit, seketika hujan gerimis sepanjang hari membasah bumi Pertiwi.

Seketika menyadarkan warga Desa Kejawar, mereka terkesiap batang hidung Tentara Nica sudah didepan mata mereka. Teriakan kepanikan terdengar disetiap sudut kampung, terlihat ada mbok-mbok manggil anaknya, ada anak cari mboknya, sambil teriak diiringi tangis anak-anak “Ada dung-tong… ada dung-tong…Nica datang… Kang Nica datang, ayoo pada mengungsi”.

Martoyo, panggilanku pendek saja Yo. Aku berdiri berpegangan pintu depan, tapi aku dikagetkan suara dari dalam rumah si Mbok memanggil, terdengar panik “Yo…dengar itu suara kentong besar ‘dung tong… Nica sudah datang?” Terlihat si Mbok keluar dari dapur berjalan masuk ke kamar “cari saudaramu panggil Ramamu disawah, segera kumpul untuk mengungsi” tanpa menyahut  aku lari ke sawah di atas bukit, terlihat hamparan sawah yang lagi menguning. Aku cari Bapak, tidak ada di gubug.

Namun ketika  aku akan kembali, terdengar suara dari arah Selatan, suara menggelegar Duuung…duung….Blum..blum..gleer, trat tat trat rettt gler…. ngiiiing blum-blumm glaar terdengar tembakan salvo mengarah kota Purwokerto, terlihat dari arah Sokaraja mungkin di batas Kota Desa Berkoh. Di Tahun 1946 kota Purwokerto dimasuki tentara NICA diiringi suara titir kentong dari setiap sudut Desa yang mengitari kota Purwokerto.

Aku berdiri di bukit itu memperhatikan situasi, tidak begitu lama terlihat dikejauhan ratusan orang keluar dari arah kota dengan membawa berbagai buntalan, ada yang memakai gerobag dorong, sepeda penuh dengan barang-barang dan anak-anak digendongan ada yang dituntun, ber-ibu wajah kebingungan. Kaki-kaki mereka melangkah keberbagai arah tujuan menyelamatkan jiwa raga, dari sang angkara murka, tentara Nica. Dengan diiringi suara dentuman, dari kejauhan. Terlihat di udara pesawat-pesawat tempur Nica bersliweran di atas Kota, tiada perlawan dari Tentara Republik saat tentara Belanda [NICA] yang akan memasuki kota Purwokerto.

Desa Kejawar sebelah utara timur laut dari arah kota Purwokerto kurang lebih lima belas kilometer dari pusat Kota. Jalan Desa, kala Tahun 1946 masih berupa jalan setapak, bila hujan becek. Jalan itu mengarah ke Kuburan Desa Arcawinangun, disitu aku lahir dan besar. Rumah-rumah umumnya berpagar gedeg dan papan kayu, beratap daun bambu, seng dan genteng.

Satu Desa hanya satu yang punya sepeda dan radio, yaitu perangkat Desa atau Kadus saja. walau sederhana tapi kehidupan sangat damai, selepas Jepang angkat kaki dari Bumi Pertiwi. Tapi sekarang kehidupan sehari-harinya tertutup kabut gelap penjajahan kembali membelengu kehidupannya.

……………..

Pada sore hari jelang Bada Magrib, satu hari jelang kedatangan Tentara Nica. Aku pergi ke sungai untuk mandi, aku tersadar dan merasakan sesuatu pertanda alam yang aneh, namun aku pendam dalam hati. Sudah tiga hari ini,  aku tiada terdengar suara retnong dan suara burung, malam pun berasa miris, tiada angin sedikitpun yang  aku rasakan. Terlihat kabut  bermunculan dari setiap sudut Desa. Selesai mandi, aku langsung ke Surau sholat Maghrib berjamaah.

Di Surau  aku bertemu Kang Narjo, Kang Gosam, dan Kang Anto. Selesai sholat aku berbicang-bincang sambil berjalan pulang.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline