Lihat ke Halaman Asli

salman imaduddin

Komunitas Ranggon Sastra

Setapak Gajak

Diperbarui: 22 Februari 2022   08:11

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

sayup-sayup bayangmu semayam dalam malam yang menolak kantuk mataku

di rebah tubuh lunglai yang beranjak landai dari bantal bebal menggumpal sesal alegori masa silam

pandanganku tak henti menyorot  penuh harap pada langit-langit kamar, menerka surya

begitu pula harap sukma yang menolak gelap,
tetapi raga ini telah terbingkai kecewa

setiap saat seperti melekat pada dinding-dinding kenangan yang kian hari kian menyempit menghimpit kepala

masihkah kau mengingat, denyut-denyut kehidupan yang pernah kita aliri bersama

setiap detiknya menjadi candu suci yang memikat beribu peri
laku tubuh melakoni setiap perih kita melenggok seelok penari menghindari tetajam duri

dalam temaram alunan nafas dan tabuh degup jantung mengiringi setapak demi setapak gajak yang kita pilih

bunga-bunga bukan lagi warna-warni taman-taman sunyi lagi
kala itu bunga-bunga bermekaran adalah ketika bertatapan denganmu pancaran yang curai menawan membangkitkan selera hidupku yang telah lama hilang ditelan angan kematian

aku tak bermadah gelagak menjuri sebab geladak yang membengkak bak cecunguk penghardik kita senjakala lalu
tapi ini disebabkan rindu-rindu yang tak pernah usang terbakar waktu

telah kusemat doa-doa dalam persembunyian dosa-dosaku padamu
harap tak berubah maupun berpindah dari yang lalu

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline