Lihat ke Halaman Asli

Riyani

Stay focus and complete the journey

Emosi Ditahan atau Dilampiaskan?

Diperbarui: 30 Juni 2021   07:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

http://tinybuddha.com/

Banyak yang tidak menyadari betapa berbahayanya memendam emosi dan memilih untuk menutupinya, padahal emosi yang dipendam bisa berpengaruh negative terhadap kondisi fisik maupun mental. Bahkan, bisa memberikan dampak buruk pada hubungan dengan orang lain. Memendam emosi biasanya terjadi saat kamu menghindari, tidak mengakui, atau tidak dapat mengekspresikan dengan cara yang tepat.

Beberapa emosi yang seringkali dipendam antara lain adalah kemarahan, frustasi, kesedihan, ketakutan, dan kekecewaan.  Meskipun merasa marah dengan gangguan sehari-hari adalah respon normal, namun menghabiskan seluruh waktu dengan marah bisa menjadi perusak. Terus menerus menghilangkan frustasi kita dapat menyebabkan reaksi fisik dan emosional, seperti tekanan darah tinnggi.

Kuncinya adalah cara menyampaikannya. Bukan apa yang ingin kamu sampaikan. Komunikasi itu ada seninya, jadi belajarlah untuk berkomunikasi dengan cara yang baik.melepaskan kemarahan saat anda berkomunikasi akan membuat penyelesaian datang lebih cepat. Tidak masalah untuk jujur dan terbuka terhadap apa yang mengganggumu, namun saat kamu telah mengatakannya, itu berarti saat untuk melepaskan hal tersebut.

Jika kamu menahannya, mungkin akan baik - baik saja saat ini, tapi tidak menjamin di kemudian hari. Sesek pasti, dan mungkin orang mengira dengan menahan emosi tidak akan memperpanjang masalah. Tapi bagaimana kalau kamu menahannya lagi ?. Emosinya mungkin akan meledak. Hal itu akan membuat orang lain kaget dan tersakiti. Menahan emosi selain membuat hati gundah, ternyata juga dapat berdampak negative bagi tubuh. Kebiasaan memendam emosi tidak akan membuat emosi itu hilang, justru malah akan membuat emosi tersebut tinggal di tubuh.

Diantara efek memendam emosi diantaranya :

  • Melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Di saat pandemi seperti saat ini, kekebalan menjadi hal yang dibutuhkan tubuh. Karena jika kekebalan tubuh lemah, membuat lebih mudah terserang berbagai jenis penyakit, seperti flu. Sudah banyak studi yang menunjukkan bahwa paparan terhadap stress, kecemasan, dan suasana hati yang negative umumnya dapat memengaruhi kesehatan fisik. Saat mengalaminya, seseorang akan cenderung lemas dan tak bersemangat. Dampak seperti penyakit memang tidak langsung dirasakan tubuh, namun karena kekebalan tubuh menurun, resiko terkena penyakit semakin besar.

  • Gannguan tidur

Menahan emosi tanpa bisa mengekspresikan tentu kan membuat gelisah dan cemas. Hal ini akan menyebabkan gangguan tidur seperti insomnia. Karena otak tidak tahu bagaimana menangani emosi yang tidak diungkapkan. Akibatnya, otak akan bekerja semalaman untuk menentukan pola emosional dan menyebabkan kamu gelisah serta tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dari kurangnya waktu tidur tersebut juga akan menyebabkan seseorang mudah marah. Kurangnya waktu tidur dan rendahnya kualitas tidur telah lama dikaitkan dengan berbagai gangguan fisik, mental, dan emosional. Dalam jangka pendek, kurang tidur dapat meningkatkan emosi negative, seperti kegelisahan, rasa sedih.

  • Resiko penyakit kronis

Faktanya, terlalu sering dan terlalu lama memendam emosi bisa menyebabkan pada risiko penyakit. Karena kekebalan tubuh menurun, emosi dan energy negative yang terpendam dapat meningkatkan risiko penyakit mematikan seperti kanker dan penyakit jantung. Melampiaskan dengan marah-marah atau emosi yang kuat juga justru lambat laun dengan sendirinya dapat menyebabkan perubahan-perubahan anatomis dan fisiologis tertentu pada sejumlah sistem organ tubuh. Dengan begitu, hal yang perlu dilakukan hanya mengontrol emosi dan tak perlu melampiaskan dengan marah-marah.

  • Mood swing

Merasa tertekan karena sering memendam emosi dapat membuat mood menjadi tidak stabil dan sering berubah ubah tiba-tiba. Perubahan mood yang ekstrem selain memengaruhi suasana hati juga dapat meningkatkan intensitas tantrum. Hal tersebut terjadi karena emosi yang dipendam justru dapat membuat emosi semakin tidak terkontrol dan bisa meledak kapan saja. Salah satu kemungkinan penyebab mood swing adalah ketidakseimbangan kimia pada otak yang berhubungan dengan pengaturan suasana hati dan perubahan hormone yang dihasilkan tubuh.

Jadi ya utarakan apa yang kamu rasakan, bukan dengan melampiaskannnya ke sembarang orang. Dengan mengekspresikan emosi seperti marah, maka akan mengurangi rasa frustasi yang ada dalam hati, namun marah tersebut tidak dimaksudkan seperti marah yang tidak terkendali, berlebihan. Karena kemarahan tersebut dapat membuat seseorang sulit untuk membuat keputusan yang rasional. Dan hal ini akan berdampak positif bagi tubuh.

Kamu tak hanya bisa meluapkan  emosi dengan kata-kata, menulis juga bisa menjadi cara sehat untuk meluapkan emosi. Dengan menulis, membantu menjernihkan pikiran, karena saat menulis kamu bisa mencurahkan apa saja yang kamu rasakan. Cara ini dapat mengurangi stress dan juga rasa cemas. Menulis juga membantu mengidentifikasi penyebab serta mencari cara untuk meredakan emosi. Menulis dapat dilakuka kapan dan dimana saja.  Selain menulis, membaca juga bisa menjadi salah satu hal yang dilakukan untuk meluapkan emosi. Dengan membaca memungkinkan kamu untuk melepaskan diri dari kehidupan selama beberapa jam. Dengan membaca kamu dapat mengalihkan perhatian dari tadinya emosi kemudian menuangkannya dengan membaca,  dan tentunya juga membaca dapat memberi perspektif baru tentang berbagai hal.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline