Lihat ke Halaman Asli

Rifan Nazhip

Menebus bait

Cerpen | Cinta Seorang Barista

Diperbarui: 15 November 2019   17:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber ilustrasi : pixabay

Hujan begitu deras memaku bumi. Senja pertengahan Nopember berkabut. Seharusnya kau sedang menari di halaman itu. Menyenandung gemetar sampai bibirmu biru. Matamu takjub melihat jutaan---tentu tak dapat dapat kau hitung---permata luruh. Kau menjelma putri raja dengan kemilau cahaya. Sebelum akhirnya mamamu mengalahkan gelegar petir, menyuruh masuk ke dalam rumah. Menghadiahiku gerutuan.

Aku berlari ketakutan ke balik semak.  Kau mengirimku kecupan lewat hujan. Mamamu ligat menjebloskanmu ke dalam rumah. Hahaha, masa kecil yang indah!

Saat ini kau mungkin setengah menggigil di sudut ruangan. Kupasangkan syal di lehermu. Mungkin kau benci. Tapi syal itu lumayan hangat.

Kau masih sama seperti dulu, penyuka hujan, meski sekarang hujan hanya bisa kau nikmati lewat jendela. Tempiasnya lekas menjangkau tubuhmu.  Aku rasa kau bersin-bersin. Aku menghangatkanmu dengan inhaler.

"Espresso?" tanyaku. Kau sangat suka itu. Aku terseok pelan mendekati lemari.

Masih ada jejak barista di retak tanganku. Sayang sekali, tangan ini tak sanggup lagi menggiling kopi. Semua terbungkus rapi di lemari. Aku meramunya dengan hati-hati. Bubuk coklat kutaburkan di pucuk kopi yang berbusa.

Kau mungkin lagi-lagi bersin. Ini salahku. Terseok kututup jendela. Terseok lagi menghidangkan dua cangkir kopi di meja. Hmm, sedap sekali minum kopi di senja muram yang dingin ini. Aku jadi teringat masa sekitar lima puluh tiga tahun lalu.

Kau kala itu mengetuk pintu kafe pagi sekali. Aku belum bangun benar, refleks bangkit dari sofa. Membersihkan wajah seperlunya di wastafel. Membersihkan tahi mata yang mengeras dan bandel.

"Hai," katamu bergairah, saat aku membuka pintu kafe yang terbuat dari kaca. Rambutmu basah. Butiran hujan berhamburan dari rambut itu saat kau menggeleng-gelengkan kepala.

Aku sedikit protes, kenapa kau datang saat kafe baru akan buka sembilan jam lagi. Bukankah belum genap pukul tujuh pagi?

Katamu kau rindu espresso buatanku. Aku menggoda, rindu esprosso atau barista. Dua-duanya, kau jawab dengan tawa. Mencubit genit pinggangku. Memercikkan bau hujan di hidungku. Cepat kuralat ucapan yang bernada protes sebelumnya. Sebenarnya aku amat senang kau kunjungi sepagi itu. Malahan sampai siang, sampai malam. Atau selamanya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline