Lihat ke Halaman Asli

Mengapa Orang Jogja Tidak Menyukai Perilaku Pengendara Motor Gede

Diperbarui: 16 Agustus 2015   11:39

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Moge menerobos seenaknya, merugikan orang banyak

Silakan nonton dulu video di atas untuk mengetahui kejadian yang terjadi di perempatan Condong Catur Yogyakarta tanggal 15 Agustus 2015 kemaren.

Bisa dibuktikan bahwa memang pengendara motor besar itu tidak mengalah memberi jalan kepada arus pengendara lain dari Timur, Selatan, dan Utara. Di peta di bawah, lokasi kejadian penghadangan adalah di titik 2. Mereka datang dari arah Barat dan menuju Timur. Jalan di utara dan selatan titik 2, tanda panah biru, adalah dua jalan yang cukup sempit. Jadi ketika para pengendara motor besar itu menerobos lampu merah dipastikan kedua ruas jalan tersebut makin macet parah.

Perhatikan bahwa pemrotes berteriak "merah...merah" setiap kali lampu berwarna merah tapi selalu diterobos. Pengawal mereka sebenarnya kelihatan salah tingkah tapi mereka tak berdaya.

Kalau diperhatikan baik-baik, maka rombongan motor besar itu bukanlah satu rombongan besar. Mereka adalah terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang masing-masing kelompok dikawal oleh beberapa polisi. Ini lepas dari kekeliruan pengawalan itu tetapi seharusnya kalau memang bukan satu rombongan besar, misalnya seperti rombongan Presiden RI, maka tidak ada salahnya mereka berhenti di setiap lampu merah.

Mengapa?

 

Perhatikan titik 1 dan 3 di Barat dan Timur titik 2. Jika mereka tidak berhenti di setiap perempatan, maka semua pengendara lain di titik 1 dan 3 juga akan dihentikan oleh polisi memberi jalan bagi kelompok-kelompok kecil rombongan itu yang entah sampai kapan akan habis. Sebagai informasi, karena saya tinggal hanya beberapa meter dari ring road tersebut, suara bunyi rotator dan derum motor besar itu terdengar sejak pagi hingga malam. Coba bayangkan kalau segitu lama mereka harus dimaklumi, dilayani, dimenangkan?

Tanda bintang hitam di antara titik 1 dan 2 adalah titik penggabungan dari jalur lambat sepeda motor ke jalur cepat mobil ke arah Timur (ke arah titik 2). Artinya ada penyempitan jalan di sana. Di hari normal biasanya ada kemacetan di antara tanda bintang dengan titik 2. Jadi, kemarena saya yakin ada kemacetan di sana ketika pengendara dari jalur lambat bergabung ke jalur cepat dan bersirobok dengan rombongan yang minta didahulukan itu.

Dua bulan terakhir saya dua kali mengetahui ada rombongan Presiden RI yang melewati ruas jalan yang sama dengan yang dilewati oleh pengendara motor besar itu. Kebetulan saya sempat melihat seorang perwira TNI berbicara dengan mandor proyek gorong-gorong di bagian selatan ring road di Pogung Lor. Dari pengalaman pelintasan Presiden yang lalu, saya menduga bahwa perwira itu meminta kerjasama dari mandor proyek, yang telah menutup jalur lambat, sehingga jalur cepat dimasuki sepeda motor, agar membuka lajur lambat tersebut dan memindahkan semua rambu-rambu proyek di jalur cepat ke jalur lambat sebelum kedatangan rombongan Presiden. Mereka saya lihat berjabat tangan erat dan senyum lebar. Tidak ada kepongahan walau yang lewat adalah orang yang paling penting di negara ini.

Jadi, cobalah wahai pengendara motor besar yang pasti melek pendidikan, belajarlah rendah hati. Kalian minta dikawal polisi, oke. Tapi juga ingat bahwa kalian menggunakan alat negara yang pajaknya kita bayar bersama. Karena kita sama-sama bayar pajak, ada juga pengguna jalan lain yang harus kalian tenggang perasaan mereka.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline