Lihat ke Halaman Asli

Be the Smart Parents for Children with "Smartphone"

Diperbarui: 19 Agustus 2017   14:49

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber: techno-pedia.com

Miris rasanya ketika saya sedang mengunjungi halaman facebook dan tidak sengaja membaca sebuah postingan yang berisi kalimat sindiran-ungkapan kebencian-dan setelah saya telusuri pemilik akun tersebut adalah seorang anak yang masih berada di bangku Sekolah Menengah Pertama.

Kasus kedua, ketika saya sedang membuka aplikasi instagram, lagi-lagi saya tidak sengaja membuka fitur snapgram yang mempertunjukkan sebuah video tawuran antar pelajar.

Lantas, apakah kini media sosial hanya sebagai wadah untuk membagikan kebencian dan hal-hal yang tidak bermoral lainnya?

Bahkan kini, maraknya pengguna media sosial adalah kalangan anak-anak sampai remaja. Lalu, dimana peran para orangtua dalam menyikapi hal ini?

Perkembangan teknologi memang meningkatkan daya saing dari berbagai pihak, salah satunya media sosial. Begitu banyak pihak berlomba-lomba untuk meluncurkan beragam media sosial semakin memicu pro dan kontra. Sebenarnya, apa itu media sosial?

Media sosial adalah wadah atau sarana dimana seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain secara luas dan tidak terbatas. Media sosial sangat berhubungan erat dengan internet. Dan pada era kini, internet cukup mudah diakses dimana dan kapan saja. Jika sudah seperti itu, apa pengguna media sosial juga dapat dikatakan bersifat bebas?

Ya, pengguna media sosial dapat dikatakan bersifat bebas karena berasal dari berbagai kalangan masyarakat. Memang ada batasan pada konten tertentu dalam media sosial bagi penggunanya, misalkan umur. Akan tetapi, manusia dengan berbagai akal yang dimilikinya tetap mengusahakan cara untuk dapat mengakses media sosial tersebut.

APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) telah mengumumkan hasil survei Data Statistik Pengguna Internet Indonesia tahun 2016, jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2016 adalah 132,7 juta user atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta. Media sosial merajai konten internet sebagai yang paling sering diakses netizen. Tercatat 97,4% orang Indonesia mengakses akun media sosial saat mengunakan internet. Dan konten media sosial yang paling banyak dikujungi adalah Facebook sebesar 71,6 juta pengguna atau 54% dan urutan kedua adalah Instagram sebesar 19,9 juta pengguna atau 15%. Persentase pengguna internet pada kelompok usia 10-14 tahun yang mencapai 100 persen dengan jumlah 768 ribu. Luar biasa.

Tingginya tingkat penggunaan media sosial di Indonesia, khususnya dikalangan pelajar jelas dapat berdampak terhadap karakter anak tersebut. Apalagi, mudah sekali untuk menemukan anak-anak yang sudah memiliki smartphone sendiri. Terkejut? Jelas. Dulu, untuk mengakses internet saja masih terbatas, untuk mempunyai handphone yang jadul saja cukup sulit, apalagi untuk memiliki smartphone? Tapi sekarang, tidak memandang umur ataupun golongan, smartphone dapat ditemukan digenggaman siapa saja.

Lantas, mengapa para orangtua dapat begitu mudah mempercayakan anaknya untuk memiliki smartphone? Alasan klasik, agar mudah untuk dihubungi.

Benar. Media sosial memberikan banyak keuntungan seperti, mudah berkomunikasi dan mengakses berbagai informasi. Sehingga memudahkan pengawasan orangtua, selain itu para anak juga dapat mengembangkan hobi dan menuangkan kreativitas mereka melalui media sosial. Manfaat itulah yang digunakan para orangtua untuk mempercayakan smartphone kepada anak-anaknya. Lagi, apakah anak-anak tersebut sudah berhasil mengoptimalkan sisi positif dari media sosial, atau malah sebaliknya?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline