Lihat ke Halaman Asli

Rachmat Hidayat

TERVERIFIKASI

Budayawan Betawi

Berkaca Dari Najwa, Mengajari Anak Menjadi Pendengar yang Baik

Diperbarui: 26 Januari 2018   16:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar: thai.ac

Tayangan talkshow yang sering saya tonton hanya Indonesia Lawyers Club yang dipandu "Presiden" Karni Ilyas. Yang lain? Sorry! Namun tak semua ILC saya tonton. Saya akan pilah pilih tema. Bila menarik, saya tonton Karni hingga selesai. Namun bila tidak, cukup matikan TV dan bersiap untuk bobo cantik. Kalau kemarin saya nonton tayangan talkshow "Mata Najwa" melalui youtube, itupun karena terdorong rasa penasaran saya. Telah viral di medsos bahwa, Si Host, yakni Najwa Syihab sering memotong pembicaraan Aneis. Sering menginterupsi.

Penasaran, akhirnya saya tonton juga. Awalnya saya mengira akan memperoleh sajian yang informatif dan edukatif, namun nyatanya, tak layak tonton, minimal untuk dilihat oleh anak-anak. Kebayang gak saat kita nonton acara itu di rumah, di saat bersamaan, anak-anak kita juga melihat tayangan itu. Saya takut anak-anak mencontoh sikap Najwa dalam bertanya dan menyela pembicaraan orang. Dan itu --menurut nilai-nilai yang saya anut-- sangat lah tidak sopan.

Saya sadar, pengaruh tayangan tipi sangat besar bagi pembentukan sikap dan perilaku anak. Anak mencontoh dan meniru apa yang mereka lihat dan saksikan sehari-hari. Saya tak ingin anak-anak saya meniru hal yang tak patut (dalam tayangan talkshow itu), yakni sering menyela pembicaraan orang lain. Ya, kalau satu dua kali tak masalah, namun kalau berkali-kali menyela. Tentu ada yang salah terhadap sikap dan kepribadian yang bersangkutan. Hingga saya sampai pada kesimpulan, attitude Najwa memang bermasalah.

Sebagai orang tua, saya tak ingin anak-anak memperoleh perilaku yang tak patut diterapkan dalam pergaulan dengan sesamanya. Saya tak dapat membayangkan bila nanti saat saya berdiskusi dengan mereka, mereka kerap memotong pembicaraan saya. Anak sering menyela kita, sering memotong argumen dan penjelasan kita. Bagaimana rasanya, bangga? Karena menilai anak kita bisa bersikap kritis terhadap kita? Saya tidak! Sikap kritis tidak ditunjukkan dengan menyela pembicaraan orang. Justru sikap menyela tanda ia mau menang sendiri.

Sebagai ayah, saya akan ajari mereka bagaimana menjadi pendengar yang baik. Saya biasakan pada mereka untuk berempati dan menjadi kawan yang asik untuk diajak ngobrol, dari yang serius hingga yang asik-asik. Dan, di saat temannya butuh pandangan atau tanggapan, saya ajari mereka untuk berargumen, berbicara dan mengutarakan pendapat dengan baik dan benar, tanpa mengurui, tanpa sok, merasa yang paling tahu, tanpa merasa yang paling pintar, paling benar, dan paling mengerti.

Saat menjelang tidur, saya bisikkan ke telinga anak-anak. Anakku, dengarkan pendapat teman-temanmu, jadilah kawan yang baik bagi mereka. Dengar argumentasi temanmu. Hargai pendapatnya. Setelah temanmu selesai mengutarakannya, barulah kau bersuara. Nak, jadilah pendengar yang baik.

Nak, jika kamu cantik/ganteng dan smart, tentu itu patut disyukuri. Namun ingat, kecantikan dan kecerdasanmu akan tergerus lalu sirna tanpa diimbangi oleh attitude, sikap, perilaku dan akhlak-mu dalam berbicara. Sikap merasa paling benar, arogan, sombong, dan selalu "wah" dalam berbicara agar kamu dipandang terlihat lebih pintar, lebih menguasai, adalah tipe orang yang sejatinya rapuh dengan kepribadiannya. Jadilah pribadi yang santun, menghargai pendapat orang, mau mendengar dan menerima perbedaan tanpa memaksakan dan mendikte orang lain agar sepaham dan seide denganmu.

Sebagai orang tua, tayangan Mata Najwa mengajarkan banyak hal bagi saya. Salah satunya adalah menjadi pendengar yang baik. Tidak menyela. Kalaupun menyela, itu dilakukan dengan sopan tanpa maksud menggurui atau menginterogasi. Kita dapat saksikan, -saking sabarnya- Anies berucap: "Tolong selesaikan dulu saya bicara". Namun yang kerap terjadi adalah, tatkala Anies berbicara, Najwa sering kali berujar, "OK, Ok. Baik!" (Saya tangkap ybs telah paham apa maksud pembicaraan Anies). Ujaran Najwa ini --maaf-- sangat kampungan dan menganggu kita sebagai pemirsa. Sejurus kemudian ia menyela dan berargumen panjang lebar. Nah, saya yang menonton jadi risih sendiri, Kok begini adabnya. Bukankah Anies belum secara utuh menjelaskan tentang suatu hal yang ditanyakan, lalu sekonyong-konyong di-cut.

Beruntung ada anonim yang mem-posting di medsos grafik/diagram yang membandingkan berapa menit Anies dan Najwa berbicara. Hasilnya..? Bisa Anda simpulkan sendiri bagaimana kualitas Si Host.

Anonim. Dokpri

Kalau saya Anies, mungkin saya bentak Najwa, sambil berkata, dengan keras:

"Tolong biarkan saya selesai dulu berbicara, Anda kok seringkali menyela pembicaraan saya."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline