Lihat ke Halaman Asli

Putri Indah Ciptadi

Guru Ekonomi SMA Negeri 2 Magelang

Upaya Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Melalui Problem-Based Learning untuk Menjawab Tantangan Abad 21

Diperbarui: 9 Desember 2022   16:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Kualitas pendidikan yang berkelanjutan salah satu target dalam Suistanable Development Goals (SDGs). Siswa perlu dibekali keterampilan terutama soft skill untuk menghadapi Abad 21. Salah satu keterampilan Abad 21 adalah keterampilan berpikir kritis. Keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan, antara lain menganalisis, menilai, mengevaluasi, merekonstruksi, serta mengambil keputusan yang mengarah pada tindakan yang rasional dan logis. Keterampilan berpikir kritis  merupakan cara berpikir reflektif untuk menentukan simpulan terhadap sesuatu yang dipikirkan. Keterampilan berpikir kritis masih mengalami banyak kendala terutama dalam pembelajaran Ekonomi.

Faktanya, pembelajaran Ekonomi yang berorientasi pada keterampilan berpikir kritis belum banyak dilakukan oleh guru. Hal ini dapat dilihat dari pengemasan materi yang masih membuat siswa belum terbiasa untuk menyelesaikan soal atau tugas yang berkarakter keterampilan berpikir kritis. Dampak dari pembelajaran yang belum berorientasi pada keterampilan berpikir kritis adalah peserta didik kesulitan apabila dihadapkan dengan materi/soal yang membutuhkan keterampilan berpikir kritis. Ditambah lagi, guru belum menyediakan media dan model pembelajaran yang bisa melatih peserta didik berpikir kritis.

Harapannya dalam pembelajaran Ekonomi adalah guru mampu memfasilitasi keterampilan berpikir kritis dan siswa terbiasa melakukan aktivitas yang mengasah keterampilan berpikir kritis. Guru dituntut mampu menerapkan potensi peserta didik sesuai salah satu kecakapan abad 21 yaitu keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem-solving skill). Peserta didik diharapkan dapat berkreativitas, berkomunikasi, dan berkolaborasi sehingga dapat memecahkan berbagai masalah kehidupan.

Berdasarkan fakta dan harapan tersebut, belum adanya desain pembelajaran yang selama  ini dilakukan di SMA Negeri 2 Magelang untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis tersebut. Desain pembelajaran yang memungkinkan untuk menerapkan keterampilan tersebut adalah Problem-based Learning dengan Group Investigation dan Role Playing. Problem-based Learning awalnya dimunculkan untuk mahasiswa kedokteran. Namun, lambat laun diadaptasi oleh beberapa pendidik. Problem-based Learning merupakan serangkaian pembelajaran yang diawali dari adanya permasalahan kemudian dipelajari untuk dicarikan solusi terhadap permasalahan tersebut. Dengan memecahkan masalah maka siswa diajak untuk melatih keterampilan berpikir kritis.

Penggabungan Problem-based learning dengan Group Investigation memberikan manfaat untuk siswa dan guru. Beberapa penelitian menuliskan bahwa hal itu dapat untuk meningkatkan pemahaman peserta didik dalam pemecahan suatu masalah bersama anggota kelompok. Siswa bisa saling berbagi pengalaman dan bertukar ide maupun gagasan sehingga tanpa disadari akan mendorong peserta didik dalam bernalar kritis. Dalam menerapkan model PBL ini, peserta didik juga dituntut untuk aktif dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan rasa percaya diri.

Sebagai penulis sekaligus peneliti, saya tertantang untuk menerapkan pembelajaran menggunakan Problem-based learning dengan Group Investigation. Langkah yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut antara lain: mengidentifikasi permasalahan yang ada dalam kegiatan pembelajaran, memilih satu permasalahan dan menemukan solusinya, merancang aksi, melaksanakan aksi, dan melakukan refleksi dan tindak lanjut. Langkah-langkah tersebut ternyata memiliki tantangan tersendiri.

Tantangan menerapkan Problem-based learning dengan Group Investigation dialami bukan hanya oleh guru tetapi juga oleh peserta didik. Proses pembelajaran yang dilakukan guru belum berorientasi pada kemampuan berpikir kritis peserta didik. Siswa belum terbiasa dihadapkan dengan materi atau soal HOTS sehingga cenderung lama dalam merespon. Peralatan dan perlengkapan yang belum memadai. disiapkan dalam pembelajaran. Selain itu, kurangnya penguasaan guru dalam membuat evaluasi dan rubrik penilaian.

Upaya aksi untuk menghadapi tantangan dalam penerapan desain pembelajaran tersebut terdiri atas 3 (tiga) tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Ketiga komponen ini menjadi wajib dilakukan oleh guru agar Problem-based learning dengan Group Investigation dapat berjalan dengan baik. Kurangnya perhatian pada salah satu tahap akan berdampak pada kualitas pembelajaran.

Perencanaan, dilakukan di awal sebelum melakukan penerapan pembelajaran. Perencanaan ini meliputi, menganalisis kebutuhan dan karakter perserta didik, menyiapkan konten materi yang berorientasi pada keterampilan berpikir kritis, mengembangkan media pembelajaran, dan membuat instrumen untuk mengukur tujuan pembelajaran. Pada tahap ini, guru bisa berkolaborasi dengan guru mata pelajaran yang sejenis, kepala sekolah, atau bahkan dosen yang memiliki kemampuan di bidang keterampilan berpikir kritis terutama pelajaran Ekonomi.

Pelaksanaan, dilakukan apabila tahap perencanaan sudah matang dan siap untuk dilaksanakan. Tahap pelaksanaan dijelaskan sebagai berikut.

Orientasi peserta didik pada masalah, yang meliputi guru menjelaskan garis besar tentang konsep biaya peluang, guru menyajikan video materi tentang biaya peluang melalui tautan: https://www.youtube.com/watch?v=WPCUSj46S_c&t=51s, dan peserta didik mengajukan hal-hal yang belum dipahami terkait masalah yang disajikan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline