Lihat ke Halaman Asli

Purnawan Andra

A sinner with no name

Banjir Informasi Corona

Diperbarui: 27 April 2020   07:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Fenomena menyebarnya virus corona telah menjadi perhatian seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari pedagang asongan hingga direktur perusahaan, dari bidan hingga peragawan, semua mengikuti perkembangan berita tentang corona di media massa, baik cetak, elektronik hingga online. 

Corona memang sedang menjadi berita utama: tidak hanya menjadi gejala, tapi sudah mewabah di seluruh dunia. Informasi tentangnya muncul setiap saat, setiap waktu.

Kita dipasok informasi oleh media dalam beragam bentuk: reportase, analisa atau feature, hingga dari share, tag atau retweet postingan, komentar atau pesan konten online. 

Informasi tentang corona, dan segala yang terkait dengannya, ada dimana-mana -- mulai dari obrolan di kantin dan saat rapat ketika kita masih boleh berkantor atau berita di koran, majalah dan situs berita online, televisi hingga gawai ketika kita diminta mengisolasi diri setelah wabah ini menyebar luas.

Kita mengalami "banjir informasi" tentang corona. Tapi jika kita terkena banjir, tak ada air yang bisa diminum, apakah kita bisa "meminum" sesuatu dari banjir informasi tentang corona? 

Kita tahu informasi bernilai aktualitas, daya tarik, dan rasa ingin tahu yang ditimbulkan. Dengannya, ada ratio informasi-aksi yang berarti seberapa jauh informasi bisa melahirkan tindakan.

Dalam konteks corona, informasi itu ada yang memberi manfaat langsung, dalam arti membuat publik bertindak positif: pesepakbola Cristiano Ronaldo menghibahkan hotel miliknya menjadi rumah sakit untuk pasien corona, milyader Jack Ma menyumbang dana pembelian alat-alat kesehatan hingga artis Nikita Mirzani mendonorkan uang untuk pengadaan masker pencegahan tersebarnya virus.

Tapi pada saat yang sama, informasi juga dapat menjadi komoditas, sesuatu yang tidak mempunyai hubungan dengan kegunaan maupun maknanya, juga dengan konteks sosial maupun intelektualnya. 

Hal ini terbukti dengan penyajian ragam berita tentang corona -- mulai dari ditepiskannya etika jurnalistik dengan dibukanya data mengenai penderita dan penggalian berita tentangnya yang terkesan beringas dan tidak proporsional, pemaknaan wabah penyakit yang dikaitkan dengan hal-hal diluar nalar (klenik, tahayul hingga fatwa sepihak) hingga beragam versi berita bohong (hoax). Dengannya, informasi menjadi terdekontekstualisasi.

Akibatnya, informasi media tidak membuat masyarakat bertindak positif. Yang terjadi malah perilaku diluar nalar seperti panic buying terhadap barang-barang seperti masker dan hand sanitizer serta penimbunan barang-barang kebutuhan rumah tangga atas nama persiapan lockdown yang mungkin saja bakal terjadi. 

Alih-alih simpati, empati dan toleransi kepada masyarakat yang lebih membutuhkan, beberapa kalangan malah melakukan swab test pribadi secara khusus dan eksklusif bagi anggota keluarganya. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline