Lihat ke Halaman Asli

Himam Miladi

TERVERIFIKASI

Penulis

Mengenal GHB, Obat Bius yang Jadi Senjata Reynhard Sinaga

Diperbarui: 8 Januari 2020   18:17

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi GHB (sumber gambar: freepik.com)

Nama Reynhard Sinaga jadi pembicaraan dunia, khususnya warga Inggris. Pria berusia 36 tahun ini dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dinyatakan bersalah melakukan perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 pria Inggris. Nyaris 160 dakwaan dijatuhkan, menurut jaksa.

Reynhard adalah mahasiswa Indonesia yang tengah mengambil studi doktoral saat ditangkap polisi pada Juni 2017. Sebelumnya, Reynhard telah tinggal di Manchester sejak 2007.

Terbongkarnya Aksi Reynhard Sinaga
Kasus Reynhard terbongkar pada Juli 2017 setelah salah satu korbannya mendadak sadar dan memukul Reynhard. Korban yang juga pemain rugbi inilah yang melapor ke polisi, sehingga aksi Reynhard bisa diselidiki.

Korban ini menggambarkan Reynhard seseorang yang tampaknya bersahabat dan tak ada yang perlu dikhawatirkan dari perilakunya. Ia juga ingat Reynhard memberinya cairan minuman berwarna merah dan minuman tak berwarna. Setelah itu, katanya, ia tak ingat sama sekali. Beberapa jam kemudian, ia terbangun ketika Reynhard menidurinya.

Kepolisian mencurigai obat bius yang digunakan Reynhard adalah GHB - (gamma hydroxybutyrate) - obat yang dapat membuat korban tak sadarkan diri dan tertidur berjam-jam.

Obat ini menurut pakar forensik dan toksikologi yang dihadirkan di pengadilan, Dr Simon Elliott, selain memiliki efek membuat korban tak ingat dan tertidur pulas, juga mengendorkan tubuh. Kondisi tubuh yang kendor memudahkan perkosaan melalui anus, menurut pakar.

Mengenal GHB, Obat yang Digolongkan Narkotika
Gamma hydroxybutyrate (GHB) adalah bahan kimia yang ditemukan di otak dan area lain dari tubuh. Bahan ini juga bisa dibuat di laboratorium seperti obat-obatan sintetis lainnya.

GHB (C4H8O3) dapat diproduksi dengan sedikit pengetahuan tentang kimia, karena hanya melibatkan pencampuran dua prekursornya, yakni GBL (gamma butyrolactone) dan alkali hidroksida seperti natrium hidroksida, untuk membentuk garam GHB. Karena bahan prekursornya banyak tersedia dan proses pembuatannya mudah, GHB banyak diproduksi secara ilegal di rumah-rumah pribadi.

Dalam dosis kecil, GHB dapat menyebabkan efek euphoriant, yakni menyebabkan peminumnya merasa senang dan nyaman. Karena efeknya ini, GHB sering dikonsumsi orang-orang yang datang ke klub malam. Sejak tahun 1990, muncul istilah slang untuk GHB, yakni ekstasi cair, lolipop, cairan X atau cairan E karena kecenderungannya untuk menghasilkan euforia dan kemampuan bersosialisasi bagi pemakainya di acara-acara pesta klub malam.

Beberapa atlet juga menggunakan GHB karena obat ini dipasarkan sebagai agen anabolik, meskipun tidak ada bukti bahwa GHB bisa membangun otot atau meningkatkan kinerja atletik.

GHB Terkenal Sebagai Obat Pemerkosaan
Pada periode 1990-an, GHB banyak tersedia di jaringan toko obat-obatan di Amerika Serikat sebagai suplemen makanan. Namun karena banyaknya kasus pemerkosaan yang terbukti menggunakan GHB sebagai obat untuk membius korbannya, otoritas makanan dan obat-obatan Amerika Serikat (FDA) mengeluarkan jenis obat ini dari pasaran.  

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline