Lihat ke Halaman Asli

Himam Miladi

TERVERIFIKASI

Penulis

Mbak Wenti, Perantau Tangguh yang Menemukan Jalan Hijrahnya

Diperbarui: 28 Mei 2019   12:39

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokumentasi pribadi

Jatuh, bangkit, dan akhirnya menemukan jalan hijrahnya. Seperti itulah kisah perjalanan hidup Mbak Wenti. Bukan saudara kandung, tapi sudah dianggap saudara sendiri oleh keluarga kami.

Mbak Wenti, seperti penuturannya pada saya, adalah perantau asal Medan. Setelah lama bekerja di sebuah perusahaan nasional, Mbak Wenti memutuskan untuk pensiun. Di usianya yang sudah sangat matang, Mbak Wenti merasa dirinya semakin jauh dari Sang Pencipta. 

Karena itu, dia memutuskan untuk menyudahi perjalanan karirnya dan berbekal sedikit tabungan yang dimiliki, ia ingin membuka usaha sendiri.

Namun Allah berkehendak lain. Usaha yang dirintisnya gagal, modalnya pun habis. Kemudian Mbak Wenti menerima tawaran seorang teman untuk membantu usahanya, sekaligus menjaga anak-anaknya di rumah.

Ketika sedang ikut perjalanan ziarah Wali Songo, Mbak Wenti bertemu dengan ibu saya. Menurut Mbak Wenti, meski saat itu ia baru pertama kali bertemu dengan Ibu, tapi sosoknya seolah pernah ia jumpai di Masjid Jami Al Akbar, Surabaya.

Tak hanya itu, sekalipun baru pertama kali kenal, Mbak Wenti merasa sudah langsung akrab, seolah-olah Ibu saya sudah mengenal Mbak Wenti begitu lama.

Bulan Ramadan tahun lalu, Mbak Wenti memutuskan untuk belajar agama dan mengaji Al Quran pada Ibu. Mungkin sudah suratan takdir dan karena sudah pernah bertemu sebelumnya, Ibu pun kemudian meminta Mbak Wenti untuk tinggal di rumah, menemani beliau sembari belajar ilmu agama langsung.

Setelah Mbak Wenti tinggal di rumah kami, Ibu seolah menemukan seorang anak yang hilang. Begitu pula dengan Mbak Wenti, seperti menemukan sosok Ibu kembali setelah ditinggal ibu kandungnya 8 tahun silam. Keluarga lain di rumah juga merasa cocok dengan kepribadian Mbak Wenti dan sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri.

Selama belajar mengaji, Mbak Wenti lah yang melayani ibu kami sehari-hari. Meskipun kami sudah mengingatkan Mbak Wenti untuk tidak memperlakukan Ibu dengan istimewa seperti seorang majikan, tapi Mbak Wenti sendiri yang bersikeras untuk melayani Ibu.

Beberapa waktu lalu, seorang keponakan saudara ipar membutuhkan pengasuh anak. Atas saran istri saya, keponakan saya lalu meminta Mbak Wenti untuk menjadi pengasuh anak mereka karena sebelumnya sudah berpengalaman mengasuh anak.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline