Lihat ke Halaman Asli

Prayitno Ramelan

TERVERIFIKASI

Pengamat Intelijen, Mantan Anggota Kelompok Ahli BNPT

22 Tahun Peristiwa 9/11 dan Pelajaran bagi Badan Intelijen

Diperbarui: 12 September 2023   07:58

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pembajak pesawat membunuh hampir 3.000 orang selama serangan terkoordinasi pada 11 September 2001. Serangan itu antara lain menarget menara kembar World Trade Center (WTC) di New York City, AS. (Sumber: Getty Images via kompas.com)


Tanggal  11 September 2023  adalah tepatnya peringatan 22 tahun aksi teror spektakuler 9/11 yang dilakukan 19 orang dari kelompok pelaku bunuh diri dengan membajak empat pesawat  AS.

Teror yang dilakukan pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai peristiwa 9/11, dimana pembajak menabrakkan dan mampu meruntuhkan menara kembar World Trade Center di New York yang merupakan simbol keperkasaan ekonomi AS, selain  itu juga Pentagon sebagai Markas  Pertahanan AS ikut diserang.

Warga dan pemerintah AS menangis dan marah, dengsn jatuhnya korban 2.749 nyawa. Maka dimulailah operasi kontra teror untuk mengejar siapa dibalik itu semua. FBI dan militer AS meyakini bahwa ini adalah ulah Osama bin Laden sebagai pimpinan Al Qaeda yang berada di Afganistan. 

Tiga hari setelah serangan tersebut, CIA melakukan Operasi intelijen dengan sandi 'Jawbreaker'. 

Tim khusus ini dipimpin oleh Wakil Direktur CIA, Gary Schroen sebagai ketua tim dengan wakil  Phil Reilly.Team kecil (9 orang) bertugas menyiapkan kedatangan pasukan khusus AS untuk mencari Osama dan menduduki Kabul yang dikuasai Taliban.

Operasi Jawbreaker tidak berhasil menangkap Osama bin Laden yang melarikan diri ke Pakistan (tewas ditembak Navy Seal pada 2011), tapi sukses mendukung militer AS yang mampu mengalahkan Taliban (yang  menguasai 3/4 wilayah Afganistan), sementara saat itu Aliansi Utara  yang pro AS (menguasai 1/4 wilayah).

Setelah 20 tahun berkuasa di Afganistan, Presiden Joe Biden akhirnya menarik pasukan AS  dari Afganistan dan hingga kini Taliban kembali berkuasa.

Terorisme dan intelijen

Dalam mengikuti pembacaan aksi teror maupun kontra teror,  hanya bisa dilakukan dengan disiplin ilmu intelijen, karena disitulah teror sebagai sebuah mazhab ideologis bermukim merupakan bagian (sarana) dari fungsi intelijen penggalangan (conditioning).

Ayman al-Zawahiri pengganti Osama bin-Laden sebelum tewas mengatakan Amerika bukanlah "kekuatan mistis " dan bahwa para mujahidin, pejuang suci Islam itu di tanahnya sendiri bisa mengalahkannya dengan serangan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline