Lihat ke Halaman Asli

Pradhany Widityan

TERVERIFIKASI

Full Time IT Worker

Imajinasi Danarto yang Menitis pada Panggung Monolog

Diperbarui: 25 November 2016   14:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Jamluddin Latif dan jaring untuk Malaikat dalam lakon

Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam melihat realitas. Kedudukan berbeda maka pandangan berbeda, tak mungkin sama antara orang seorang bangsawan dan rakyat jelata. Pun akan berbeda jika profesi berbeda. Orang-orang biasa hanya akan melihat kehidupan keseharian yang sederhana. Seorang ilmuwan, berdasarkan data hasil penelitian tentu lebih jauh melihat kehidupan. Begitu juga seniman. Dengan imajinasinya yang memang tajam, mereka lebih jauh mencermati jalannya realitas di sekitarnya.

Seniman dalam karya-karyanya baik berupa untaian-untaian kata, goresan-goresan rupa, gerak-gerak tari, emosi-emosi peran, dan alunan-alunan nada merupakan hasil perenungan dan imajinasi-imajinasi liar dan banal mereka. Dalam karya yang dibuat secara 'serius' bukan tidak mungkin memiliki daya magis dalam melihat realita. Baik mengkritisi, mengapresiasi, atau sekadar menceritakan kembali realita yang ada.

Liar, banal, nakal, invinity dalam memadukan realitas dengan imajinasi adalah ciri yang ada dalam cerpen-cerpen Danarto. Malah kadang di luar akal sehat sampai sulit dimengerti pembaca awam. Sifat-sifat itulah yang menjadikan cerpen-cerpennya berpredikat realisme magis. Jika boleh meminjam istilah yang di dunia internasional melekat pada sastrawan berkebangsaan Colombia, Gabriel Garcia Marquez.

Berasal dari dua tatanan budaya berbeda, Marquez menampilkan kehidupan masyarakat Amerika Latin yang penuh kejutan magis. Danarto tak kalah dalam membawa unsur magis di masyarakat Indonesia, terutama Jawa. Penulis yang lahir di Sragen, Jawa Tengah 76 tahun silam ini banyak bermain pada tataran magisme agama, sufistik, sejarah, folklor, dan adat Jawa.

Magisme di Indonesia memang berkembang sejak lama. Hal yang berusaha dipatahkan oleh setidaknya teori Madilog-nya Tan Malaka. Namun, tak mudah. Kombinasi antara kepercayaan agama yakni pada Tuhan, roh nenek moyang, dewa-dewa, dan makhluk halus nyatanya masih ada hingga zaman ini. Sesuatu yang bisa disebut tatanan budaya ini, di Jawa sendiri merupakan warisan Hindu, Budha, dan Islam yang secara beruntun masuk ke Jawa. Saling meleburkan kegiatan, kepercayaan, upacara, dan filsafat masing-masing hingga menjadi agama dan kepercayaan dengan rasa Indonesia. Beragam ilmu di luar itu juga menjadi rujukan masyarakat Jawa. Misalnya ilmu kejawen atau ilmu kebatinan yang juga jadi rujukan bagi sufisme selain ilmu agama.

Danarto yang sejak kecil hidup di lingkungan Kejawen yang kental, membuat karya-karyanya pun saling berkelindan antara yang real dan sureal, antara yang nyata dan tidak nyata, saling jalin menjalin seolah tak ada batasan. Kentalnya kepercayaan magis yang melekat di realita kehidupan, bahkan di zaman modern itulah yang dipotret Danarto dalam cerpen-cerpennya. Tentu dengan bumbu imajinasi yang tinggi. Jika tidak, bagaimana bisa Danarto menyatakan kalau malaikat Jibril adalah malaikat pengangguran karena zaman sekarang sudah tidak ada Nabi yang perlu diberikan wahyu. Beberapa cerpen yang menggugah nalar itulah yang menjadi bahan 'garapan' Mimbar Teater Indonesia ke-5 (MTI). Bertajuk 'Panggung Realisme Magis Cerpen-cerpen Danarto', mereka memanggungkan cerpen-cerpen Danarto dalam bentuk monolog.

Rintrik yang digambarkan dengan boneka kayu dan janur. Ida Ayu Putu Bulan menangis menggendong bayi. Lakon

Acara yang berlangsung selama tanggal 21 – 23 September 2016 di Taman Budaya Solo menampilkan para aktor-monologer (pemain monolog) yang secara kreatif menghias panggung dengan penjiwaan mereka bersama sutradara tim masing-masing. Mengkaji ulang cerpen, membuat naskah, membuat tata panggung, cahaya, dan suara, kemudian menampilkannya dalam bentuk lain namun jiwa realisme magisnya tetap sama.

Saya hanya sempat menyaksikan pentas pada hari terakhir. Malam itu sebagai malam penutup, menampilkan pentas Menjaring Malaikat oleh Jamaluddin Latif, Abrakadabra oleh Ade Ceguuk, dan Rintrik oleh Ida Ayu Putu Bulan. Ketiga pentas tersebut diadaptasi dari cerpen Danarto berjudul 'Mereka Toh Tak Mungkin Menjaring Malaikat', 'Rintrik', dan 'Abracadabra'. Dari ketiganya, yang mudah dimengerti jalan ceritanya bagi saya sendiri adalah 'Menjaring Malaikat'.

Mengusik
Pentas malam itu berlangsung di suasana yang dingin selepas hujan mengguyur Solo. 'Menjaring Malaikat' menampilkan cerita yang mengusik tatanan baku keagamaan. Agama yang sakral dan tabu untuk dibuat bercanda, malah setidaknya bisa sesekali mengundang tawa. Bagaimana tidak, cerita itu menceritakan Malaikat Jibril, tukang kebun, anak-anak sekolah, dan seorang guru yang kolot. Semuanya diperankan oleh Jamaluddin Latif dengan apik.

Menanyakan apa kegiatan malaikat di langit pada seorang guru ngaji tentu akan dijawab bahwa mereka hanya beribadah. Namun tidak dalam cerita ini. Jibril di sini adalah malaikat pengangguran. Tak ada wahyu yang harus disampaikan lagi karena Nabi Muhammad ditetapkan sebagai nabi akhir zaman. Sama halnya dengan malaikat Israfil yang belum waktunya meniup sangkakalanya. Jibril adalah malaikat pengangguran.

Untuk mengisi waktu luang itulah Jibril turun ke bumi dan ingin bermain bersama anak-anak sekolah dasar. Di daerah yang merupakan bagian dari negara yang bisa dibilang korup itulah ia menjatuhkan genting sekolah dan membuat hujan hanya pada genting yang bolong. Anak-anak yang ketakutan dan berhamburan keluar kelas disambut tawa geli sang ketua malaikat.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline