Lihat ke Halaman Asli

Pical Gadi

TERVERIFIKASI

Karyawan Swasta

Lin dan Ibu Peri

Diperbarui: 20 Juni 2015   02:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Lin membuka pelupuk matanya perlahan, lalu mengedarkan pandangan ke segenap penjuru kamar tidurnya dengan ekspresi tidak biasa.  Dia merasa sangat bugar, seperti bangun dari tidur berkepanjangan. Sensasi dinginnya lantai yang menyambut jemari dan telapak kakinya pun terasa tidak biasa.

Lin merasakan keanehan, tetapi pikirannya masih kaku, belum mampu mengurai keanehan tersebut. Perlahan gadis mungil berusia delapan tahun  itu pun menuju ke pintu kamar, membuka kenop pintu dan memandang ke luar. Sepi dan suram. Hanya hembusan sepoi angin yang memberinya salam.

Lin menyusuri selasar lalu menuruni tangga kayu jati menuju ke lantai satu. Berkas cahaya matahari yang biasa masuk dari jendela di sebelah timur rumah, kali ini tak nampak sedikitpun. Lin memperkirakan dia terbangun di tengah malam. Biasanya Lin dengan berat hati akan mengetuk pintu kamar kamar ibunya, untuk memintanya menemani ke kamar mandi di lantai dasar.

Sejak berumur tujuh tahun, Lin sudah paham, wanita setengah baya yang biasa dipanggilnya ibu itu sebenarnya bukan ibu kandungnya. Wanita itu mengadopsinya sejak Lin masih bayi. Sekalipun Lin tidak pernah suka pada ibu angkatnya, dia tetap butuh orang dewasa untuk menemaninya menyusuri tangga yang kelam dan dingin. Tapi kali ini entah mengapa, dia merasa tidak perlu memanggil siapa-siapa untuk menemaninya ke bawah.

Dia merasa begitu bebas dalam kebingungannya. Ya, kali ini dia berani seorang diri, tidak tahu darimana datangnya keberanian itu. Bibir mungilnya pun mulai melantunkan lagu favoritnya

“Twinkle-twinkle Little Star……

How I wonder what you are……,” sambil menuruni anak tangga satu persatu.

Suara mungilnya menggema di sudut-sudut ruangan. Di bawah sini, keadaan ruangan lebih gelap lagi. Tapi Lin seperti tidak peduli, tatapannya tertuju pada sosok boneka panda besar berwarna coklat pasir di sudut ruangan.

Lin pun berlari ke arah boneka itu, seolah ada yang hendak mendahuluinya. Boneka Panda kini berada dalam dekapan Lin. Rambut panjangnya digerai kesamping menutupi dada kirinya, lalu boneka panda disandarkan kesitu. Lin kemudian berpura-pura menjadi ibu yang sedang menidurkan bayinya. Dengan gemulai dia menari kesana kemari, sesekali meloncat kecil sambil menyanyikan lagu Nina Bobo.

Beberapa saat kemudian, Lin menyadari keanehan lainnya. Dia lalu meraba pelipis juga punggungnya. Ada yang hilang rasanya. Sehari-hari ibu angkatnya menjadikan Lin sebagai sasaran amarah. Tonjokan dan pukulan kayu sudah biasa dia terima sehingga selama ini setiap kali terbangun dari tidur, perasaan ngilu dan sedikit nyeri selalu menghampirinya. Dia pun terheran-heran kali ini dia terbangun segar bugar. Tak merasa sakit atau nyeri sedikitpun.

Lin tersenyum lalu meletakkan boneka panda ke lantai. Dari jendela rumah, dia bisa melihat kawan-kawan sekelasnya sedang bermain di luar sana. Di luar cuaca sedang cerah. Lin pun jadi heran dengan anomali waktu dan cuaca itu. Dari jendela lainnya dia bisa melihat guru-gurunya hanyut dalam kegalauan, mereka semua nampak kebingungan seperti baru saja kehilangan sesuatu yang berharga. Senyum Lin perlahan memudar. Dari jendela yang lain, dia melihat sosok ibu angkatnya dikawal beberapa lelaki dewasa berpakaian seperti….. polisi. Apa yang terjadi?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline