Lihat ke Halaman Asli

Pikiran Anda! (Catatan Kedua untuk Pandji Pragiwaksono)

Diperbarui: 12 April 2017   13:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Ini catatan saya yang kedua untuk tulisan Pandji soal-soal Pilkada. Pertama saya tulisa di blog pribadi. Dan ini catatan untuk tulisannya yang berjudul “Pikiran anda” yang bisa dibaca di blog Pandji judulnya "Pikiran anda". (Selain beberapa kata yang saya pakai, kata atau kalimat yang saya gunakan dari tulisan Pandji, saya buat miring).

Pengantarnya tidak perlu dibahas, terlalu bertele-tele. Tidak adapun tidak jadi soal.

Tulisan ini (meski kosong) bisa jadi merupakan tulisan politis terbaik (seumur hidup Pandji). Kuantitas kata-katanya, bertele-telenya, logika terbaliknya, termasuk desain blog-nya sedikit.

Pertama, setuju dengan Pandji, seperti yang dia bilang sendiri “adegan (Orang dengan identitas Islam, melakukan aksi massa yang rusuh, membawa spanduk “Ganyang Cina”) itu tidak salah. Adegan itu pernah terjadi di Jakarta. Tidak perlu menoleh jauh ke 98, kejadian tersebut baru baru ini terjadi di Jakarta. Rasanya menolak itu pernah ada, hanya terjadi karena 2 hal: Buta sejarah atau berpura pura demi politik saja. Bukan di situ letak kesalahannya.

Setuju betul. Saya setuju sama Pandji. Tidak ada yang masalah soal itu.

Anehnya, Pandji tiba-tiba bilang, ”Letak kesalahannya, adalah pesan yang tidak sengaja tersampaikan secara tersirat dalam iklannya”.Pandji bilang lagi, “Justru karena tidak sengaja, makanya berbahaya”.

Maksudnya apa ‘pesan yang tidak sengaja tersampaikan secara tersirat’? Saya mulai bingung. Bukannya pesannya jelas betul, tidak ada tersirat segala. Semua pesannya tersurat dan terkatakan.

Saya bisa menangkap jelas-jelas maksud videonya. Anda tidak bisa? Atau sudah terpengaruh tulisan Pandji yang sebenarnya menyelipkan banyak pesan tersirat (yang bukan hanya berbahaya, tetapi sangat berbahaya?

Saya ikut-ikutan Pandji, “Mari saya jelaskan”! (Khusus Pandji: baca pelan-pelan, pahami baik-baik!)

Pandji tanya, “Yang diinginkan iklan itu, adalah agar kita memilih Kebhinnekaan?” Betul, pesannya jelas (bukan tersirat): Pilih Keberagaman.

Apa yang salah? Bahwa keberagaman memang dari sono-nya sudah menjadi ciri warga Jakarta. Kalau kita pilih keberagaman, kok dibilang salah? Keberagaman, kebhinekaan, perbedaan memang an sich di Jakarta. Diterima.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline