Lihat ke Halaman Asli

Peb

TERVERIFIKASI

Pembaca yang khusyuk dan penulis picisan. Dulu bercita-cita jadi Spiderman, tapi tak dibolehkan emak

Guru Masa Kini di Antara Kepungan Berita Radikalisme dan Anti Kebangsaan

Diperbarui: 4 Mei 2017   10:05

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar : http://2.bp.blogspot.com/-0GFWP4ubpsM/Umk9Yf-jwbI/AAAAAAAAAoU/-DW55KNVOk8/s1600/guru-bahasa-indonesia.jpg

Istilah Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional) tidak menandakan semata hari Guru, melainkan tentang Pendidikan secara luas. Namun ketika Hardiknas 'dirayakan' maka saat itulah Guru ramai dibicarakan dari berbagai sisi. Mengapa? Karena sejak dulu hingga sekarang Guru merupakan bagian penting dalam terminologi pendidikan tersebut.

Perkembangan jaman khususnya demokrasi dan teknologi informasi telah banyak mengubah situasi pendidikan namun tak mengubah peran penting Guru didalamnya sebagai 'pelaku hidup' yang sentral. Lalu sejauh mana kita bisa memahami ''situasi batin" guru dalam proses pendidikan terhadap perubahan yang mengepung dirinya?

Pada masa orde baru, media sosial (medsos) pun belum ada. Informasi dikendalikan pemerintah yang berkuasa. Demokrasi yang ada adalah versi pemerintah. Guru beserta anak didik dalam kesehariannya mengkonsumsi informasi pemerintah.

Guru jaman sekarang telah menjadi bagian penikmat demokrasi dan informasi (termasuk medsos). Kondisi derasnya informasi itu tak terbatas dialami kalangan guru di kota, namun juga sampai ke daerah dan pedalaman.

[caption caption="sumber gambar ; http://www.satuharapan.com/uploads/pics/news_65144_1474875569.jpg"]

[/caption]

Vulgarnya Panggung Politik Tak Etis 

Saat ini situasi politik negeri dan pemberitaan banyak tersaji gerakan dan aksi kelompok-kelompok yang berpotensi merusak rasa kebangsaan. Fanatisme primodial bernuansa SARA dan kebencian begitu vulgar tersaji. Bukan hanya lewat media mainstream saja tapi juga masuk ke media sosial yang tergenggam di tangan masing-masing, baik para guru maupun anak didik.

Di sisi lain, pemerintah, atas nama demokrasi seolah melakukan pembiaran atau tak mampu berbuat apa-apa. Aksi politis yang brutal dan vulgar jadi tontonan sehari-hari tanpa ada upaya masif penghentiannya. Semua tersaji terang benderang dan dikonsumsi anak didiknya. Sajian itu berpotensi menginisiasi anak didik untuk berpikir "melenceng" dari ideologi negara yang harusnya mereka genggam kuat sejak usia muda.

Fenomena turunan dari pangsung politik tak etis kaum elit politik negeri ini sudah tampak. Sebagai contoh gejala itu sudah terlihat di suatu sekolah dalam peristiwa pemilihan ketua Osis lebih berorientasi pada kandidat yang seagama, bukan pada faktor kepemimpinan, (sumber). Di tingkat perguruan tinggi (IPB) ada kelompok-kelompok mahasiswa yang terang-terangan ingin menjadikan negara 'berdasarkan khilafah', (sumber). Sementara hal itu terjadi,  pihak sekolah dan kampus khususnya pemerintah seolah tak berdaya menghadapinya. Tentu saja hal tersebut sangat berbahaya bagi keberlangsungan NKRI di masa akan datang.

Teori di Sekolah dan Tontonan Keseharian

Disekolah para guru (dengan kurikulum) mengajarkan teori-teori kebangsaan. Patron teladannya adalah para pahlawan nasional. Anak didik dibawa pada romantisme keteladanan tokoh dan perjuangan masa lalu. Sementara dalam kenyataan sehari-hari masa kini-luar sekolah- fenomena aksi anti kebangsaan yang mengarah pada radikalisme begitu vulgar tersaji, semarak dan hidup dipandu banyak patron tokoh hebat yang membawa agenda kelompoknya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline