Lihat ke Halaman Asli

Parhorasan Situmorang

Petualang waktu yang selalu memberi waktunya untuk menginspirasi generasi muda.

Simus, Murid Romo Mangun Mengasuh SD Republik Anak Kenalan

Diperbarui: 29 Mei 2019   03:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Presiden dan Wakil Presiden Republik Anak Kenalan 2018. (Foto: repro dok. facebook republik anak kenalan)

Satu orang laki-laki muda sore hari itu datang ke rumah Romo Mangunwijaya di jalan Gejayan, gang Batara Kuwera nomor 14, Mrican, Yogyakarta. Dia menuliskan memo di secarik kertas lalu meletakkan di meja. Isi memo memberitahu pengunduran waktu kegiatan sarasehan di desa kecil, di pegunungan Menoreh. Desa yang lumayan jauh dari kediaman Romo Mangun.

Laki-laki itu sebenarnya berharap bisa bertemu langsung Romo Mangun untuk menjelaskan duduk soal pengunduran waktu. Tetapi Romo Mangun sedang tidak berada di rumah. Sesudah meletakkan memo dia hanya berharap Romo Mangun tetap dapat menghadiri. Dua hari sebelumnya dia bertemu langsung Romo Mangun menyampaikan undangan. Untuk jadwal semula Romo Mangun sudah mengonfirmasi bisa dan berkenan datang sebagai narasumber.

Laki-laki itu mengenal Romo Mangun sebagai sosok yang sangat baik. Kendati demikian sebuah pemikiran pelan-pelan menyelusup berkecamuk di benaknya. Ada kekuatiran apakah memo itu cukup sopan sebagai media pemberitahuan untuk tokoh sekelas Romo Mangun? Apakah Romo Mangun tidak tersinggung cuma diberitahu sekedar via secarik kertas sobekan buku? Apakah Romo Mangun menjadi murka?

Terutama yang menjadi pertimbangan adalah Romo Mangun bukanlah romo biasa. Dia super sibuk. Apakah pengunduran waktu menjadi lebih malam bisa menyesuaikan dengan waktu senggang Romo Mangun. Apalagi kegiatan ini di desa terpencil di pegunungan Menoreh.

Di luar dugaan, Romo Mangun datang mengendarai vespa putih, vespa kesayangannya. Luarbiasa! Seorang Romo Mangun sebenarnya punya segudang alasan untuk tidak datang. Tentu si pengundang pun bakal memaklumi karena merekalah yang mengundurkan waktu kegiatan. Mereka juga memahami bahwa Romo Mangun adalah tokoh kelas Negara. Tepuk tangan untuk Yang Mulia Romo Mangun.

*

Laki-laki yang datang sore dan meletakkan memo di meja Romo Mangun itu adalah Simus Maryono. Kini dia kepala sekolah SD Kanisius Kenalan.

Bertahun kemudian, sesudah Romo Mangun wafat, Simus kembali mendatangi Kuwera nomor 14. Kali ini tidak sendiri, dia datang membawa sekelompok murid kelas enam bersama guru kelas. Mereka menginap di rumah Romo Mangun. Anak-anak itu turun gunung, mengunjungi kota istimewa Yogyakarta meluaskan cakrawala membebaskan diri dari tempurung yang membosankan. Simus bersama rekan-rekan guru mendesain kegiatan siswa untuk belajar sebagai pembelajar.

"Para murid SD Kanisius Kenalan ke Yogyakarta tidak dalam rangka liburan. Tetapi ini merupakan hari efektif belajar namun berpindah ruang belajar selama 2 hari. Mereka kita ajak fokus dalam suasana berbeda dengan keseharian. Mereka murid yang jauh dari kota kita ajak ke kota Yogyakarta untuk menerapkan pelajaran yang diperoleh di kelas dan di luar sekolah. Misalnya terkait mata pelajaran IPA dan IPS," ujar Simus.

Itulah sebabnya mereka mengunjungi tempat bersejarah dan mengandung pendidikan. Benteng Vredeburg, Taman Pintar, Taman Margasatwa Gembira Loka, Tugu Yogyakarta, Gedung Agung, Stasiun Tugu, Taman Sari, Pemukiman Kali Code yang dirancang Romo Mangunwijaya.

"Secara personal dengan belajar bersama dalam lingkup luas mereka menjadi mampu mandiri sesudah lulus dari SD," Simus menegaskan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline