Lihat ke Halaman Asli

Cahyadi Takariawan

TERVERIFIKASI

Penulis Buku, Konsultan Pernikahan dan Keluarga, Trainer

Menikmati Bulan Mulia Bersama Keluarga

Diperbarui: 14 Mei 2018   13:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

foto : Gamze Bozkaya - Unsplash.com

Ramadhan adalah bulan mulia yang dinantikan kehadirannya oleh ummat muslim di seluruh dunia. Selama ini negara mayoritas muslim seperti Indonesia, menempatkan Ramadhan sebagai momentum istimewa yang disambut dengan berbagai macam agenda yang meriah. Di kampung-kampung, di masjid dan mushalla, di berbagai instansi, seakan berlomba untuk menyambut Ramadhan dengan berbagai cara. Semua menunjukkan betapa istimewa bulan Ramadhan bagi kehidupan bangsa Indonesia.

Demikian pula dalam kehidupan keluarga. Sangat banyak keluarga muslim yang melakukan persiapan menjelang Ramadhan dengan berbagai aktivitas bersama masyarakat. Sejak yang bercorak tradisional dan kultural, seperti upacara padusan maupun ziyarah kubur; sampai kepada yang bercorak ilmiah dan akademik seperti Seminar Menjelang Ramadhan dan Tarhib Ramadhan. Sebagian yang lain menyambut Ramadhan dengan membersihkan rumah dan menata ulang bagian rumah sembari memberikan hiasan atau asesoris yang ceria, terutama dalam keluarga yang memiliki anak-anak masih kecil. Tujuannya agar anak-anak semua bergembira menyambut Ramadhan.

Itu semua semakin menguatkan betapa istimewa nilai Ramadhan bagi masyarakat Indonesia. Untuk itu, hendaknya bulan Ramadhan dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi upaya perbaikan diri, keluarga, masyarakat, serta seluruh bangsa Indonesia. Dalam kaitan dengan perbaikan diri dan keluarga, setidaknya ada lima momentum yang disediakan Ramadhan untuk dimanfaatkan secara optimal.

Pertama, Momentum Spritual

Bulan Ramadhan benar-benar penuh dengan momentum yang sangat spiritual atau ruhaniyah. Melaksanakan seluruh kegiatan ibadah di dalamnya, adalah sarana sangat istimewa untuk meningkatkan ketaqwaan, menambah kedekatan dengan Allah, membuat suasana jiwa yang penuh dengan ketundukan dan ketulusan. Inilah momentum yang sangat besar manfaatnya untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi seluruh anggota keluarga.

Melaksanakan sahur adalah ibadah, dan bentuk ketaatan kepada Allah, bentuk kecintaan kepada sunnah Nabi Saw. Berpuasa adalah ibadah, dan bentuk ketaatan kepada Allah. Berbuka puasa adalah ibadah, dan bentuk ketaatan kepada Allah, bentuk kecintaan kepada sunnah Nabi Saw. Membaca, menghafalkan dan mempelajari Al Qur'an adalah ibadah, dan bentuk ketaatan kepada Allah, bentuk kecintaan kepada sunnah Nabi Saw. Shalat tarawih adalah ibadah, dan bentuk ketaatan kepada Allah, bentuk kecintaan kepada sunnah Nabi Saw. Melaksanakan i'tikaf, berinfak, membayar zakat fitrah, melakukan takbir, hingga melaksanakan shalat Iedul Fithri, adalah ibadah dan bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul.

Seluruh ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan memiliki nilai pahala yang berlipat ganda, serta menjadi sarana peningkatan kualitas iman dan taqwa bagi semua anggota keluarga. Ini yang akan menjadi pondasi untuk membangun kebahagiaan yang hakiki bersama seluruh anggota keluarga. Dalam bahasa psikologi, keimanan dan ketaqwaan semua anggota keluarga adalah faktor pembentuk resiliensi keluarga yang paling utama. Dengan iman dan taqwa yang semakin meningkat, maka daya lenting atau resiliensi keluarga juga meningkat.

Kedua, Momentum Intelektual

Momentum intelektual juga menjadi salah satu warna dan ciri khas selama Ramadhan. Di berbagai masjid, mushalla dan komunitas, sangat banyak tawaran kajian aneka tema. Bahkan hampir setiap masjid menyajikan Kuliah Subuh, Ceramah Tarawih, Tausiyah Takjil, Pengajian Buka Puasa Bersama, dan lain sebagainya. Di beberapa pusat kegiatan Islam, digelar Pesantren Ramadhan, yang mengkaji berbagai keilmuan mendasar. Itu semua menjadi momentum ---bukan hanya untuk 'siraman ruhani'--- namun juga untuk menambah wawasan serta bekal intelektual.

Ada berbagai wacana keislaman yang didialogkan, ada kitab-kitab rujukan yang dikaji dengan mendalam, ada berbagai pelatihan praktis yang disajikan, itu semua menjadi momentum peningkatan intelektualitas. Di sisi lain, Ramadhan juga menjadikan peningkatan semangat thalabul ilmi pada kebanyakan masyarakat muslim. Mereka menjadi lebih rajin membaca, mengaji, belajar dan menyimak majelis ilmu yang sangat banyak digelar sepanjang Ramadhan. Fenomena yang tidak dijumpai di luar bulan Ramadhan.

Dalam kehidupan keluarga harus ditradisikan untuk selalu belajar dan menambah ilmu pengetahuan. Belajar adalah perintah agama yang tidak berbatas masa. Sepanjang rentang kehidupan manusia, harus terus menerus melakukan pembelajaran. Keluarga yang cerdas, keluarga yang berwawasan luas, akan menjadi keluarga yang lebih memiliki daya tahan dalam menghadapi setiap persoalan. Tidak mudah terusik dan terguncang oleh badai yang pasti datang. Keluarga akan tetap kokoh karena berbekal pemahaman serta ilmu pengetahuan yang bermanfaat.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline