Lihat ke Halaman Asli

Ozy V. Alandika

TERVERIFIKASI

Guru, Blogger

Ketika Harapan Merdeka Belajar ala Mas Nadiem Lebih "Manis" dari Gula Aren

Diperbarui: 27 Juli 2020   22:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gambar diolah dari Detik dan Pixabay.

Saat menatap wajah pendidikan Indonesia di era Merdeka Belajar hari ini, teringatlah saya dengan pohon mangga. Adalah pohon mangga yang berbuah dengan rimbunnya. Dari kejauhan, kita tak dapat membedakan lagi mana yang daun dan mana yang buah mangga.

Karena pohon mangga tadi terlalu rimbun dengan buah, maka ada beberapa premis yang mungkin akan terjadi terhadapnya. Pertama, buah-buah mangga tadi akan rontok sebelum ranum. Kedua, pohon mangganya sendiri yang akan timpang karena tak kuasa mengemban harapan sang buah.

Kembali kepada tatapan terhadap wajah pendidikan Indonesia, agaknya dua asumsi tentang pohon mangga ini cukup searah dengan kisah kereta jurusan Merdeka Belajar yang dimasinis-i oleh Mas Nadiem.

Harapan-harapan yang tertuang dalam program asuhan mantan CEO Go-Jek terasa rimbun. Sangat rimbun malahan, terutama ketika kita menyandingkan apa yang diharapkan dengan apa yang sudah didapat hari ini.

Sebenarnya dari awal Mas Nadiem duduk di kursi panas Mendikbud pada akhir Oktober tahun lalu, tebak-tebakan tentang kesenjangan sebelah wajah pendidikan sudah tampak.

Mas Nadiem pada awalnya adalah pebisnis yang tamat dari sekolah bisnis, kemudian diangkat oleh Pak Jokowi untuk menahkodai pendidikan. Apakah hal ini berarti bahwa dunia pendidikan akan dijadikan lahan bisnis? Lagi-lagi, ini hanya prasangka alias tebak-tebakan semata.

Meski demikian, di awal-awal masa jabatannya, Mas Nadiem langsung menepis prasangka yang terkesan prematur ini.

Bermula dari kata sambutan mutiara pada peringatan Hari Guru Nasional 25 November 2019, dilahirkanlah program-program yang menggoda hati dan iman.

Mulai dari penyederhanaan RPP, penghapusan UN, Kampus Merdeka, perluasan pemanfaatan Dana BOS, hingga tawaran penilaian melalui survei karakter semuanya sudah cukup untuk mengguncang hati para pelaku pendidikan, khususnya guru.

Bagaimana tidak, walaupun prasangka yang datang di awal-awal masa jabatan adalah tentang digitalisasi pendidikan, namun kesan Merdeka Belajarnya juga seakan "Ngena Banget" di hati pemirsa. Persis semanis gula aren.

Dan belum selesai sampai di sana, pada awal bulan ini (02/07/2020) Mas Nadiem juga sudah menambahkan target kerja dalam waktu 15 tahun ke depan untuk wajah pendidikan yang lebih cerah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline