Mohon tunggu...
Ozy V.  Alandika
Ozy V. Alandika Mohon Tunggu... Pengajar, Pembelajar, Pencinta Tilawah

Seorang pemuda sederhana yang sedang mengabdi sebagai guru SD di Kepahiang. Saat ini masih menetap di Kota Curup (Bengkulu). Asli Tun Jang (Suku Rejang). Selalu menanam harapan walau kemarau panjang. Singgah ke: www.ozyalandika.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Ketika Harapan Merdeka Belajar ala Mas Nadiem Lebih "Manis" dari Gula Aren

27 Juli 2020   21:36 Diperbarui: 27 Juli 2020   22:53 422 37 11 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ketika Harapan Merdeka Belajar ala Mas Nadiem Lebih "Manis" dari Gula Aren
Gambar diolah dari Detik dan Pixabay.

Saat menatap wajah pendidikan Indonesia di era Merdeka Belajar hari ini, teringatlah saya dengan pohon mangga. Adalah pohon mangga yang berbuah dengan rimbunnya. Dari kejauhan, kita tak dapat membedakan lagi mana yang daun dan mana yang buah mangga.

Karena pohon mangga tadi terlalu rimbun dengan buah, maka ada beberapa premis yang mungkin akan terjadi terhadapnya. Pertama, buah-buah mangga tadi akan rontok sebelum ranum. Kedua, pohon mangganya sendiri yang akan timpang karena tak kuasa mengemban harapan sang buah.

Kembali kepada tatapan terhadap wajah pendidikan Indonesia, agaknya dua asumsi tentang pohon mangga ini cukup searah dengan kisah kereta jurusan Merdeka Belajar yang dimasinis-i oleh Mas Nadiem.

Harapan-harapan yang tertuang dalam program asuhan mantan CEO Go-Jek terasa rimbun. Sangat rimbun malahan, terutama ketika kita menyandingkan apa yang diharapkan dengan apa yang sudah didapat hari ini.

Sebenarnya dari awal Mas Nadiem duduk di kursi panas Mendikbud pada akhir Oktober tahun lalu, tebak-tebakan tentang kesenjangan sebelah wajah pendidikan sudah tampak.

Mas Nadiem pada awalnya adalah pebisnis yang tamat dari sekolah bisnis, kemudian diangkat oleh Pak Jokowi untuk menahkodai pendidikan. Apakah hal ini berarti bahwa dunia pendidikan akan dijadikan lahan bisnis? Lagi-lagi, ini hanya prasangka alias tebak-tebakan semata.

Meski demikian, di awal-awal masa jabatannya, Mas Nadiem langsung menepis prasangka yang terkesan prematur ini.

Bermula dari kata sambutan mutiara pada peringatan Hari Guru Nasional 25 November 2019, dilahirkanlah program-program yang menggoda hati dan iman.

Mulai dari penyederhanaan RPP, penghapusan UN, Kampus Merdeka, perluasan pemanfaatan Dana BOS, hingga tawaran penilaian melalui survei karakter semuanya sudah cukup untuk mengguncang hati para pelaku pendidikan, khususnya guru.

Bagaimana tidak, walaupun prasangka yang datang di awal-awal masa jabatan adalah tentang digitalisasi pendidikan, namun kesan Merdeka Belajarnya juga seakan "Ngena Banget" di hati pemirsa. Persis semanis gula aren.

Dan belum selesai sampai di sana, pada awal bulan ini (02/07/2020) Mas Nadiem juga sudah menambahkan target kerja dalam waktu 15 tahun ke depan untuk wajah pendidikan yang lebih cerah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN